Bahasa Agabag adalah bahasa asli yang digunakan oleh Suku Dayak Agabag, salah satu kelompok etnis di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Bahasa ini menyebar di sepanjang sungai Sembakung, Tulid, dan Tikung. Bahasa Agabag dirancang oleh masyarakat setempat bersama lembaga Forest Resources Management for Carbon Sequestration (FORMACS) yang dipelopori oleh CARE International Indonesia CIDA dan Yayasan Selamatkan Teluk Balikpapan.[1]
Suku Agabag memiliki tiga sub-suku (berdasarkan anak sungai), maka kamus ini disusun dengan memasukkan entri dialek yang dipakai oleh ketiga sub-suku tersebut. Ketiga sub-suku tersebut adalah Sembakung, (dalam kamus ini disingkat Se), Tulid (Tu) dan Tikung (Ti).
Tembang Sakral “Kukui”
Bahasa Agabag digunakan dalam tembang sakral Kukui, sebuah lagu puja syukur yang dilantunkan sebelum dan sesudah peristiwa sakral seperti ngayau (perang adat) atau pemakaman.[2]
Di tahun 2023, Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur menginisiasi penyusunan kamus daerah dan peristilahan bahasa Agabag untuk mendukung pendidikan lokal.[3] Selain itu, pada Agustus 2022 terbit Alkitab bagian Lukas diterjemahkan ke dalam bahasa Agabag. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi pemahaman masyarakat terhadap firman Tuhan dalam bahasa ibu.[butuh rujukan]
Dalam rangka pelaksanaan Ilau Dayak Agabag IX, Musyawarah Adat dan Musyawarah Besar 11-15 Juli 2022, lantunan Kukui dipergelarkan oleh 1.258 peserta sebagai wujud pelestarian hubungan masyarakat hukum adat Dayak Agabag dengan keseimbangan alam. Acara ini mendapatkan penghargaan "Melantunkan Kukui Dayak Agabag Peserta Terbanyak" yang diberikan pada 12 Juli 2022 di Nunukan.[4]
Sejarah dan Asal-Usul
Kata kerabat (kognat) dalam Bahasa Tidung dan Bahasa Agabag adalah 139 dari 198 kosakata dasar Swadesh. Presentase kata kerabat antara Bahasa Tidung dan Bahasa Agabag adalah 70% yang menghasilkan perhitungan waktu pisah awal antara Bahasa Tidung dan Bahasa Agabag adalah 882 tahun yang lalu. Bahasa Tidung dan Bahasa Agabag adalah bahasa tunggal pada tahun 1039 - 725 tahun yang lalu. Bahasa Tidung dan Bahasa Agabag mulai berpisah dari suatu bahsa proto antara tahun 908-1296 (dihitung dari tahun 2021).Bahasa Tidung dan Bahasa Agabag merupakan bahasa yang serumpun sehingga masuk ke dalam kelompok rumpun bahasa.[5]