Sindrom pelepasan sitokin (bahasa Inggris:cytokine release syndromecode: en is deprecated , disingkat CRS) atau sindrom badai sitokin (cytokine storm syndrome, disingkat CSS) adalah salah satu bentuk sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS) yang dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti infeksi dan obat-obatan tertentu.[3] Kondisi ini terjadi ketika sejumlah besar sel darah putih teraktivasi dan melepaskan sitokin radang, yang pada gilirannya mengaktifkan lebih banyak lagi sel darah putih. CRS juga merupakan efek samping dari beberapa obat antibodi monoklonal, serta terapi sel T adoptif.[4][5] Kasus yang berat disebut badai sitokin.[2] Ketika terjadi sebagai akibat dari pemberian obat, kondisi tersebut juga dikenal sebagai reaksi infusi.[1]
Referensi
12Vogel WH (April 2010). "Infusion reactions: diagnosis, assessment, and management". Clinical Journal of Oncology Nursing. 14 (2): E10–21. doi:10.1188/10.CJON.E10-E21. PMID20350882.
12Vidal JM, Kawabata TT, Thorpe R, Silva-Lima B, Cederbrant K, Poole S, Mueller-Berghaus J, Pallardy M, Van der Laan JW (August 2010). "In vitro cytokine release assays for predicting cytokine release syndrome: the current state-of-the-science. Report of a European Medicines Agency Workshop". Cytokine. 51 (2): 213–15. doi:10.1016/j.cyto.2010.04.008. PMID20471854.