Babat adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lamongan. Babat adalah kota kecil yang ramai karena terletak di persimpangan strategis yang menghubungkan Tuban di utara, Bojonegoro di barat, Jombang di selatan, serta ibu kota Lamongan hingga Surabaya di timur. Babat merupakan merupakan pusat ekonomi Lamongan barat dan juga salah satu yang termaju di Lamongan. Jumlah penduduknya juga merupakan yang terbesar kedua (setelah Paciran) yaitu sekitar 88 ribu jiwa pada tahun 2025. Babat dilengkapi dengan berbagai pusat perbelanjaan seperti Pasar Babat, Pasar Agrobis, dan Pasar Moropelang.[1] Selain itu, juga terdapat infrastruktur penunjang lain seperti Stasiun Babat, masjid jami', hingga rumah sakit.
Babat memiliki ikon kuliner bernama wingko babat, tetapi masyarakat umum sering menganggapnya berasal dari Semarang. Wingko babat adalah kue bundar dengan rasa manis yang terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa, dan bahan lainnya. Wingko babat diabadikan dengan sebuah tugu yang berada di pusat kecamatan.[2] Selain itu, juga terdapat tempat ikonik lainnya berupa bukit kapur bernama Gunung Pegat yang berada di tepi Jalan raya Babat-Jombang.[3] Sedangkan dari segi sejarah terdapat berbagai bangunan kolonial yang masih bertahan. Hal tersebut karena wilayah ini pernah menjadi pusat Kawedanan Babat atau daerah pembantu bupati yang membawahi kecamatan-kecamatan di Lamongan barat.[4]
Geografi
Peta administrasi Babat
Babat adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan dan merupakan pintu masuk utama Lamongan dari arah barat. Perbatasan Babat dengan Kabupaten Tuban di utara dipisahkan oleh Sungai Bengawan Solo. Aliran sungai tersebut pernah berubah di zaman dahulu, sehingga salah satu desa yaitu Desa Truni sekarang berada di utara sungai. Sekarang Desa Truni terpisah dari desa lainnya di Babat dan dikelilingi Kecamatan Widang di Tuban.
Geografi Babat berupa dataran rendah dan didominasi oleh areal persawahan dan pertambakan. Selain itu, juga terdapat rawa seperti Rawa Semando yang memiliki fungsi sebagai penampungan air alami untuk mencegah banjir, tetapi sekarang banyak menjadi tambak liar.[5] Di bagian selatan Babat terdapat kawasan perbukitan kapur yang kecil. Salah satu yang terkenal adalah Gunung Pegat yang tingginya hanya sekitar 60 mdpl saja.[3]
Batas wilayah Kecamatan Babat adalah sebagai berikut:[6]
Jembatan KA Cincim menuju Tuban - sekarang beralih fungsi menjadi jembatan sepeda motor
Kecamatan Babat mengalami perkembangan pesat pada masa kolonial Belanda. Saat itu, wilayah ini menjadi pusat dari Kawedanan Babat. Kawedanan tersebut membawahi beberapa kecamatan di Lamongan barat yaitu Babat, Modo, Kedungpring, dan Sugio. Babat adalah satu dari 6 kawedanan yang ada di Lamongan pada tahun 1936 selain Kawedanan Lamongan, Patjiran, Soekodadi, Ngimbang, dan Karangbinangoen.[7] Salah satu peninggalan dari masa itu adalah Stasiun Babat. Beberapa rutenya sekarang nonaktif dan terbengkalai seperti jalur kereta api menuju Jombang dan Tuban.[8] Peninggalan lain di Babat di antaranya adalah Gedung CTN (Corps Tjadangan Nasional) yang diduga merupakan bekas kantor kawedanan, kantor Polsek, Jembatan Cincim, Gedung Garuda, dan lainnya.[4] Ikon kuliner dari Babat yang bernama wingko babat dikembangkan pertama kali pada masa kolonial Belanda. Usaha pertama yang memproduksi wingko babat adalah "Loe Lan Ing". Usaha tersebut didirikan oleh orang Tionghoa pada tahun 1898.[9]
Galeri
Agresi Militer Belanda 1948 di Babat
Bangunan rumah dinas di Stasiun Babat
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Babat terdiri dari 21 desa dan 2 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa dusun / lingkungan, yakni sebagai berikut:[10]
Wingko babat adalah kuliner khas Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Wingko babat adalah kue berbentuk bundar yang empuk dan manis. Wingko terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa parut, santan, gula pasir, dan lainnya. Meskipun sering diasosiasikan dengan Semarang, sejarah mencatat bahwa wingko babat pertama kali dibuat di Babat pada tahun 1898 oleh perantau Tionghoa bernama Loe Soe Siang. Kemudian anaknya yang bernama Loe Lan Ing meneruskan usahanya dengan merk "Loe Lan Ing" yang sekarang dikenal sebagai salah satu merk paling terkenal.[11][9]