Kondensat Bose-Einstein, pertama kali diprediksi pada tahun 1920 oleh seorang fisikawan asal india yang bernama Setyendra Nath Bose dan kemudian dikaji ulang oleh Albert Einstein. Wujud materi ini dicapai dengan mendinginkan gas hingga suhu mendekati nol mutlak.pada suhu serendah itu, partikel-parikel menempati keadaan kuantum yang sama, membentuk "super atom"[1]
saat ini, para ilmuwan dari divisi ilmu biologi dan fisika (BPS) NASA melakukan penelitian sains kuantum di Jet Propulsion Laboratory NASA yang berada di pasadena, california. para penelitian ini menggunakan lingkungan luar angkasa untuk menjelajahi dunia mekanika kuantum yang aneh dengan cara yang tidak mungkin dilakukan di Bumi dan sejak 2018 telah memproduksi BEC ( Bose-Einstein Condensate ) menggunakan CAL ( Cold Atom Laboratory) di atas stasiun luar angkasa internasional. [2]
Nobel Prize in Physics 2001 - for the achievement of Bose-Einstein condensation in dilute gases of alkali atoms, and for early fundamental studies of the properties of the condensates
C. J. Pethick and H. Smith, "Bose-Einstein Condensation in Dilute Gases", Cambridge University Press, Cambridge, 2001.
Lev P. Pitaevskii and S. Stringari, "Bose-Einstein Condensation", Clarendon Press, Oxford, 2003.
Mackie M, Suominen KA, Javanainen J., "Mean-field theory of Feshbach-resonant interactions in 85Rb condensates." Phys Rev Lett. 2002 Oct 28;89(18):180403.