Asyura[1] (Turki: Aşure) atau Puding Nuh adalah sebuah bubur hidangan penutupTurki yang terbuat dari campuran biji padi-padian, buah-buahan, buah kering dan kacang. Di Turki, hidangan tersebut dibuat setiap tahun dan disajikan khususnya pada masa Muharram,[2] bulan pertama kalender Hijriyah, karena 10 Muharram bertepatan dengan Hari Asyura ("Asyura" adalah bahasa Arab untuk "kesepuluh"). Di Indonesia, bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Peringatan bulan Muharram tidak hanya diwujudkan melalui berbagai aktivitas ibadah, tetapi juga melalui tradisi budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah pembuatan Bubur Asyura. Tradisi ini berkembang di berbagai daerah dengan bentuk, bahan, dan tata cara pelaksanaan yang berbeda-beda. Artikel ini bertujuan mengkaji sejarah, perkembangan, bentuk akulturasi budaya, serta nilai-nilai religius, sosial, budaya, dan pendidikan yang terkandung dalam tradisi Bubur Asyura di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai jurnal ilmiah, artikel akademik, dan hasil penelitian terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Bubur Asyura merupakan tradisi yang lahir dari perpaduan nilai-nilai Islam dan budaya lokal masyarakat Nusantara. Meskipun memiliki variasi di setiap daerah, tradisi ini mengandung nilai universal berupa rasa syukur kepada Allah SWT, semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan penguatan ukhuwah Islamiyah. Oleh karena itu, Bubur Asyura tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Islam Nusantara, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan sosial dan keagamaan bagi masyarakat.
Pendahuluan
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'anSurah At-Taubah ayat 36. Dalam sejarah Islam, bulan Muharram memiliki berbagai peristiwa penting yang menjadikannya sebagai momentum refleksi spiritual bagi umat Islam. Salah satu hari yang memiliki keutamaan khusus adalah tanggal 10 Muharram atau yang dikenal dengan Hari Asyura.
Di berbagai negara Muslim, Hari Asyura diperingati dengan beragam tradisi sesuai dengan budaya masing-masing masyarakat. Di Indonesia, peringatan Muharram tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan keagamaan seperti puasa sunnah, pengajian, zikir, dan santunan anak yatim, tetapi juga melalui tradisi kuliner yang dikenal sebagai Bubur Asyura. Tradisi ini berkembang di berbagai daerah seperti Kalimantan Selatan, Aceh, Jawa Timur, Madura, Sumatera Selatan, dan wilayah lainnya.
Keberadaan Bubur Asyura menunjukkan adanya proses akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya lokal masyarakat Nusantara. Akulturasi tersebut menghasilkan tradisi yang tidak hanya berfungsi sebagai simbol keagamaan, tetapi juga sebagai media memperkuat solidaritas sosial dan mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Menurut Rohmatun et al. (2024), tradisi Bubur Asyura mengandung berbagai nilai pendidikan Islam seperti nilai religius, kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat modern.[3]
Sejarah Tradisi Bubur Asyura
Tradisi Bubur Asyura sering dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS. Dalam cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Muslim, setelah banjir besar surut dan bahtera Nabi Nuh berlabuh dengan selamat, para pengikut beliau mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang masih tersedia. Berbagai bahan tersebut kemudian dimasak menjadi satu hidangan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas keselamatan yang diberikan.[4]
Meskipun kisah tersebut lebih banyak berkembang sebagai tradisi lisan dan tidak memiliki landasan hadis yang kuat, nilai yang terkandung di dalamnya sangat sesuai dengan prinsip Islam, yaitu rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, masyarakat Muslim di berbagai wilayah menjadikan pembuatan Bubur Asyura sebagai simbol rasa syukur dan solidaritas sosial.
Tradisi Bubur Asyura pada masyarakat Banjar berkembang sebagai bagian dari budaya Islam lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak dipandang sebagai ibadah mahdhah, melainkan sebagai tradisi sosial-keagamaan yang memiliki nilai positif selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.[5]
Filosofi Bubur Asyura
Bubur Asyura bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga mengandung filosofi yang mendalam. Berbagai bahan yang dicampurkan menjadi satu kesatuan melambangkan keberagaman masyarakat yang hidup dalam harmoni. Perbedaan suku, budaya, status sosial, dan latar belakang kehidupan diibaratkan sebagai berbagai bahan yang menyatu menjadi hidangan yang lezat dan bermanfaat.[3]
Selain itu, proses pembuatannya yang melibatkan banyak orang mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Setiap individu memberikan kontribusi sesuai kemampuannya sehingga menghasilkan manfaat bersama.[4]
Filosofi lainnya adalah rasa syukur kepada Allah SWT. Tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk menghargai nikmat yang diberikan Tuhan serta membagikan sebagian rezeki kepada sesama melalui pembagian Bubur Asyura kepada masyarakat sekitar.
Tradisi Bubur Asyura di Berbagai Daerah Indonesia
1. Bubur Asyura Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan
Masyarakat Banjar dikenal sebagai salah satu komunitas yang masih menjaga tradisi Bubur Asyura secara kuat hingga saat ini. Bubur Asyura dibuat secara gotong royong di masjid atau mushala dengan menggunakan puluhan jenis bahan makanan. Beberapa daerah di Kalimantan Selatan menggunakan lebih dari 40 jenis bahan yang terdiri atas beras, jagung, ubi, kacang-kacangan, sayuran, santan, rempah-rempah, dan daging. Banyaknya bahan tersebut melambangkan keberagaman masyarakat yang dipersatukan oleh nilai-nilai Islam dan kebersamaan. Tradisi ini juga berfungsi sebagai media silaturahmi antarwarga. Masyarakat berkumpul sejak pagi untuk mempersiapkan bahan, memasak bersama, hingga membagikan bubur kepada seluruh warga tanpa membedakan status sosial.[6]
2. Kanji Asyura di Aceh
Di Aceh, Bubur Asyura dikenal dengan nama Kanji Asyura. Tradisi ini memiliki karakteristik yang berbeda karena menggunakan lebih banyak rempah-rempah dan bahan pangan lokal. Kanji Asyura biasanya terdiri atas beras, santan, daging sapi, ayam, udang, kacang-kacangan, serta berbagai rempah seperti cengkeh, kapulaga, pala, kayu manis, dan jintan. Kompleksitas bahan tersebut menunjukkan pengaruh budaya Timur Tengah, India, dan Melayu yang pernah berkembang di Aceh melalui jalur perdagangan Islam. Pembuatan Kanji Asyura melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap keluarga menyumbangkan bahan makanan yang kemudian diolah bersama untuk dibagikan kepada seluruh warga desa. Tradisi ini mencerminkan semangat solidaritas sosial yang sangat kuat.[7]
3. Bubur Suro di Jawa Timur dan Madura
Di Jawa Timur dan Madura, tradisi Bubur Asyura berkembang dalam bentuk Bubur Suro atau Tajhin Sora. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi antara budaya Islam dan budaya Jawa. Masyarakat setempat sering membuat bubur berwarna putih dan merah. Warna putih melambangkan kesucian hati, sedangkan warna merah melambangkan keberanian dan semangat dalam menjalani kehidupan. Bubur kemudian dibagikan kepada keluarga dan tetangga sebagai simbol persaudaraan. Tajhin Sora tidak hanya menjadi tradisi kuliner, tetapi juga sarana pelestarian identitas budaya Islam lokal yang telah berkembang sejak masa penyebaran Islam di Nusantara.[8]
4. Tradisi Muharram dan Bubur Asyura di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan, peringatan Muharram memiliki karakteristik tersendiri. Selain tradisi Bubur Asyura, masyarakat juga mengenal tradisi melemang yang dilakukan pada bulan Muharram. Di Kota Palembang, salah satu pelaksanaan tradisi Bubur Suro yang masih lestari dapat ditemukan di lingkungan Masjid Al-Mahmudiyah yang berada di kawasan 30 Ilir. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi agenda tahunan masyarakat setempat. Bubur dimasak secara bersama-sama oleh warga, pengurus masjid, dan tokoh masyarakat menggunakan kuali besar. Proses memasak biasanya dimulai sejak dini hari hingga menjelang siang agar dapat dibagikan kepada masyarakat setelah selesai dimasak. Bubur ini dibuat dari beras sebagai bahan utama yang dicampur dengan daging sapi atau ayam, santan, serta berbagai rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, serai, kayu manis, cengkeh, pala, dan lada. Perpaduan berbagai bahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih yang khas. Banyaknya bahan yang dicampurkan dalam satu masakan melambangkan keberagaman masyarakat yang hidup dalam satu ikatan persaudaraan dan kebersamaan. [9]
Melemang merupakan tradisi memasak beras ketan dalam bambu yang dibakar menggunakan api. Tradisi ini berkembang di berbagai daerah seperti Muara Enim dan Ogan Komering Ulu. Meskipun bentuknya berbeda dengan Bubur Asyura, nilai yang terkandung di dalamnya sangat serupa, yaitu rasa syukur kepada Allah SWT, kebersamaan, gotong royong, dan sedekah kepada sesama. Selain itu tradisi melemang menjadi salah satu bentuk akulturasi budaya Islam dan budaya lokal yang masih bertahan hingga saat ini di Sumatera Selatan.
Analisis Akulturasi Budaya dalam Tradisi Bubur Asyura
Tradisi Bubur Asyura merupakan contoh nyata akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal Nusantara. Akulturasi terjadi ketika unsur-unsur budaya baru diterima dan dipadukan dengan budaya yang telah ada tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Dalam konteks Bubur Asyura, ajaran Islam tentang syukur, sedekah, ukhuwah Islamiyah, dan gotong royong diterjemahkan ke dalam bentuk tradisi kuliner yang sesuai dengan karakteristik masyarakat lokal. Oleh karena itu, setiap daerah memiliki bentuk Bubur Asyura yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis, sumber daya alam, dan budaya setempat.[10]
Masyarakat Banjar menggunakan banyak jenis bahan sebagai simbol keberagaman. Masyarakat Aceh menampilkan pengaruh budaya perdagangan internasional melalui penggunaan rempah-rempah. Sementara itu, masyarakat Jawa dan Madura memasukkan unsur simbolisme warna yang kuat dalam tradisi Bubur Suro. Di Sumatera Selatan, nilai-nilai Muharram diwujudkan melalui tradisi melemang yang juga berorientasi pada kebersamaan masyarakat.
Nilai-Nilai Pendidikan dalam Tradisi Bubur Asyura
Nilai Religius
Tradisi Bubur Asyura mengajarkan pentingnya rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan. Selain itu, tradisi ini menjadi sarana mengingat keutamaan bulan Muharram dan Hari Asyura.
Nilai Sosial
Pembagian Bubur Asyura kepada masyarakat menunjukkan pentingnya kepedulian sosial dan semangat berbagi. Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk membantu sesama.
Nilai Gotong Royong
Seluruh proses pembuatan Bubur Asyura dilakukan secara kolektif. Hal ini mengajarkan pentingnya kerja sama dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai Budaya
Tradisi ini membantu melestarikan warisan budaya Islam Nusantara yang telah berkembang selama berabad-abad. Melalui pelestarian tradisi, generasi muda dapat memahami sejarah dan identitas budaya masyarakatnya.
Nilai Pendidikan Karakter
Tradisi Bubur Asyura juga mengajarkan tanggung jawab, disiplin, kerja keras, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membentuk karakter generasi muda.
Perspektif Islam terhadap Tradisi Bubur Asyura
Dalam kajian hukum Islam, Bubur Asyura termasuk kategori adat atau kebiasaan masyarakat ('urf). Selama pelaksanaannya tidak mengandung unsur syirik, khurafat, maupun keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka tradisi tersebut dapat diterima.
Para ulama menegaskan bahwa keutamaan bulan Muharram tidak terletak pada makanan tertentu, melainkan pada peningkatan ibadah dan amal saleh. Namun demikian, apabila tradisi Bubur Asyura dijadikan sarana sedekah, silaturahmi, dan berbagi kebahagiaan kepada masyarakat, maka tradisi tersebut dapat menjadi amal yang bernilai positif.[11]
Pelestarian Tradisi Bubur Asyura di Era Modern
Perkembangan teknologi dan globalisasi menyebabkan sebagian generasi muda mulai kurang mengenal tradisi-tradisi lokal. Oleh karena itu, pelestarian Bubur Asyura memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan tokoh agama.
Dokumentasi tradisi melalui media digital, penelitian akademik, kegiatan budaya, dan peringatan Muharram di lingkungan pendidikan dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan tradisi Bubur Asyura kepada generasi muda. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.[10]
Kesimpulan
Bubur Asyura merupakan salah satu tradisi Islam Nusantara yang berkembang sebagai hasil akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal masyarakat Indonesia. Tradisi ini hadir dalam berbagai bentuk di setiap daerah, seperti Bubur Asyura Banjar di Kalimantan Selatan, Kanji Asyura di Aceh, Bubur Suro di Jawa dan Madura, serta berbagai tradisi Muharram lainnya di Sumatera Selatan. Meskipun memiliki perbedaan dalam bahan, tata cara pelaksanaan, dan simbolisme budaya, seluruh tradisi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT, mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas sosial, dan melestarikan nilai-nilai budaya Islam.
Keberadaan Bubur Asyura membuktikan bahwa Islam dapat berkembang secara harmonis dengan budaya lokal tanpa menghilangkan substansi ajarannya. Oleh karena itu, tradisi ini perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Islam Nusantara sekaligus media pendidikan karakter bagi generasi mendatang.
↑Amaliyah, Muhibah; Fikri, Fikri; Safitri, Anisa; Rosnilam, Rosnilam; Cahyani, Wulan; Fatmasari, Nor; Firmansah, Yunus; Pamungkas, Dimas Fauzi Tri; Fitriani, Dea Ananda (2023-12-01). "Pembuatan Bubur Asyura Dalam Rangka 10 Muharram di Desa Sungai Paring". Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (dalam bahasa Inggris). 4 (4): 3751–3756. ISSN2745-4053.
↑Al-Muhajir, A., Ubaidillah, U., Habibi, E., & Alfatani, I., Ahmad, Ubaidillah, Erfan, Ifan (November, 2025). [Al-Muhajir, A., Ubaidillah, U., Habibi, E., & Alfatani, I. "Tahjin Sora dalam Tradisi Asyura"]. Proceedings Annual Conference for Muslim Scholars. 7th (9(1):1328-1337). doi:10.36835/ancoms.v9i1.781.; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)