Sejarah dan perkembangan
Meskipun kegiatan kurasi dan pengorganisasian web telah berlangsung sejak pertengahan hingga akhir 1990-an, salah satu proyek pengarsipan web berskala besar yang paling awal adalah Internet Archive, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh Brewster Kahle pada tahun 1996.[7] Internet Archive meluncurkan mesin pencari untuk menelusuri konten web yang telah diarsipkan, yaitu Wayback Machine, pada tahun 2001.[8] Hingga 2018, lembaga ini menyimpan sekitar 40 petabyte data.[9] Selain itu, Internet Archive mengembangkan berbagai perangkat untuk pengumpulan dan penyimpanan data, termasuk PetaBox untuk penyimpanan data berskala besar serta Heritrix, sebuah peramban web (web crawler) yang dikembangkan bekerja sama dengan perpustakaan nasional di negara-negara Nordik.[7] Pada periode yang sama, sejumlah proyek pengarsipan web lain juga mulai berkembang, antara lain proyek oleh Perpustakaan Nasional Kanada, Pandora Archive di Australia, arsip web Tasmania, serta Kulturarw3 di Swedia.[10][11]
Pada tahun 2003, dibentuk International Internet Preservation Consortium (IIPC), sebuah konsorsium internasional yang bertujuan memfasilitasi kerja sama dalam pengembangan standar dan perangkat sumber terbuka untuk pengarsipan web.[12] Sebelumnya telah diselenggarakan pula International Web Archiving Workshop (IWAW) sebagai forum pertukaran pengalaman dan gagasan di bidang tersebut.[13][14]
Internet Memory Foundation didirikan pada tahun 2004 dengan dukungan Komisi Eropa untuk mengarsipkan konten web di kawasan Eropa. Lembaga ini mengembangkan berbagai perangkat lunak sumber terbuka, termasuk sistem untuk penangkapan media kaya, analisis koherensi temporal, penilaian spam, dan deteksi evolusi terminologi.[7] Data dari lembaga tersebut kini disimpan oleh Internet Archive, meskipun tidak seluruhnya tersedia untuk akses publik.[15]
Meskipun tidak terdapat otoritas terpusat dalam pelestarian konten web, materi daring semakin dipandang sebagai bagian dari arsip resmi. Sebagai contoh, pada tahun 2017 Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyatakan bahwa kicauan (tweet) Presiden dapat diperlakukan sebagai pernyataan resmi pemerintah.[16]