Prof. Ir. Anwari Dilmy (11 Agustus 1915–25 April 1979) adalah akademisi Indonesia yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Lambung Mangkurat pada periode 1971–1979.[1] Dia juga pernah menjabat sebagai kepala Herbarium Bogoriense pada tahun 1955 sekaligus menjadi Rektor Akademi Biologi di Bogor pada periode 1956-1957.[2]
Saat dia bersekolah di MULO di Banjarmasin, dia tinggal di rumah Ir. Schophuis yang merupakan Penasehat Pertanian dan belajar bahasa Belanda dan ide-ide dari negara Barat. Setelah lulus dari MULO, atas bantuan Ir. Schophuis, dia melanjutkan studinya di Sekolah Kejuruan Pertanian (Middelbare Land-bouwschool atau MLS) di Bogor. Saat di Bogor, dia diasuh oleh Dr. Nijholt di rumahnya, yang saat itu menjabat menjadi Kepala Laboratorium Kimia di Bogor.[2]
Karier
Pada tahun 1937 dia bekerja di Departemen Kehutanan sebagai relawan di Gombong Resort di Jawa Tengah. Namun, dia dipindahtugaskan ke Sampit dan Kapuas karena sikap nasionalisnya. Pada akhir pendudukan Jepang, dia bekerja di Kantor Gubernur Kalimantan di Yogyakarta.Menjelang akhir Perang Kemerdekaan, dia kembali bersekolah di Bogor dan melanjutkan pendidikan di Akademi Kehutanan dan menyelesaikan studinya pada tahun 1952. Kemudian, dia dicalonkan menjadi Konservator Hutan di Tarakan Pada tahun 1954, dia kembali ke Pulau Jawa dan menjadi Kepala Cabang Botani Hutan di Lembaga Penelitian Kehutanan di Bogor.[2]
Kariernya di Herbarium Bogoriense dimulaii pada bulan Februari 1955, dimana Kusnoto Setyodiwiryo, orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Kebun Raya, memiliki andil dalam memperkerjakannya sebagai kepala Herbarium Bogoriense yang sebelumnya merupakan orang ekspatriat. Hal ini dikarenakan dia merupakan satu-satunya ahli botani Belanda yang tersisa di Bogor. Meskipun saat itu dia bukan seorang ahli taksonomi yang berkualifikasi, dia berperan dalam menjaga koleksi-koleksi yang dimiliki oleh Herbarium Bogoriense berkat bantuan dari Yayasan Sains Nasional Amerika Serikat, seperti mengimpor mounting paper (sejenis kertas untuk menempel sampel tanaman), sublimat korosif, dan barang-barang lainnya untuk pemeliharaan herbarium. Selain itu, berkat bantuan Sarwono Prawirohardjo, yang saat itu menjadi Ketua Dewan Ilmu Pengetahuan Indonesia (kemudian LIPI, kini dileburkan ke BRIN), dia berhasil membangun gedung herbarium yang lebih baru dan modern. Selama menjadi kepala di lembaga tersebut, ia secara resmi menghadiri Kongres Sains Pasifik di Tokyo, Hawaii, dan Bangkok. Selain itu, dia juga menghadir Simposium tentang Vegetasi Tropis Lembap yang disponsori Unesco di Ciawi, Goroka dan Kuching.[2]
Dia, bersama Kusnoto Setyodiwiryo, membangun Sekolah Tinggi Biologi di Cibodas dan Ciawi untuk mengisi kekosongan ahli biologi di Indonesia pada kisaran tahun 1956-1957. Di sana, dia ditugaskan sementara sebagai direktur dan sebagai dosen di bidang taksonomi tumbuhan dan geografi tumbuhan. Pada 1962, seorang kolegiat ditugaskan untuk melaksanakan tugas Direktur Kebun Raya indonesia dan dia adalah salah satunya.[2]
Pada tahun 1970 ia pindah kembali ke Banjarmasin untuk menjadi Rektor Universitas Lambung Mangkurat. dan memperoleh Guru Besar Luar Biasa pada tahun 1972. Selama menjadi rektor, dia sangat aktif dalam memperluas hubungan Universitas dengan banyak Institut di luar negeri, sehingga menjadikan kampus tersebut sebagai fokus untuk pengembangan Kalimantan Selatan. Dia juga menjadi dosen di Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Ilmu Kedokteran Hewan.[2]
Selama beberapa tahun, dia menjadi anggota Komite Tetap Botani di Pacific Science Association, Anggota Komite Nasional Sumber Daya Alam, dan Ketua Komite Publikasi Kehutanan. Dia juga menulis sekitar 25 makalah tentang botani, salah satunya adalah "Pioner Plants Found One Year After the 1963 Eruption of Agung at Bali" yang menjelaskan tentang tumbuhnya sebagian kecil tumbuhan perintis di lereng utara Gunung Agung pasca letusan pada tahun 1963.[2][4]
Makam Anwari Dilmy di Banjarbaru
Keluarga
Dia memiliki seorang istri yang bernama Raden Roro Soemirah. Dari pernikahan tersebut, mereka dikarunia 5 orang anak, yaitu Irma Rukmini (meninggal saat masih balita), Irma Irawati Dilmy, Irmansyah Rachman Dilmy, Dr. Irawan Muchidin Dilmy, dan Dr. Irham A. Dilmy.[3]
Irma Irawati Dilmy menikah dengan Husni Hasan Basri dan memiliki beberapa anak, yaitu Rully Safari Basri yang memiliki istri bernama Elvira, Ria Sari Basri, dan Rucky Safari Basri yang memiliki istri bernama Debbie. Kemudian, Irmansyah Rachman Dilmy menikah dengan Haryati binti Hardiwinangun dan memiliki beberapa anak, yaitu Myra Lasmi Dilmy yang memiliki suami bernama Dinh Minh dan Tachmy Anwari Dilmy, M.Sc. yang memiliki istri bernama Lisa. Lalu, Dr. Irawan Muchidin Dilmy menikah dengan Lily Faridah binti Noor Ifansjah dan memiliki beberapa anak, yaitu M. Ifanto Setiawan Dilmy, MBA yang memiliki istri bernama Vyra, M. Aditya Nugraha Dilmy, M.M. yang memiliki istri bernama Sara Mutiara, dan Nabila Dessyana Dilmy, S.S. yang memiliki suami bernama Raka Winanga. Adapun Dr. Irham A. Dilmy menikah dengan Judy Fitrianie binti Sjar'ie Musaffa dan memiliki beberapa anak, yaitu Dr. M. Adya F. Dilmy, SpOG yang memiiki istri yang bernama Dr. Dessy Widya Fajri, Adisa Famila Dilmy, S.H. yang memiliki suami bernama Doddy Irfandi, dan drg. Adila Falisa Dilmy yang memiliki suami bernama M. Fadli Tamin, M.Sc.[3]
Kematian
Dia meninggal dunia di Banjarbaru pada 25 April 1979 akibat menderita penyakit diabetes.[2] Dia dimakamkan di Pemakaman Umum CTN Pulau Beruang KM. 29 Banjarbaru, satu komplek dengan makam D.A.W. van der Pijl yang merupakan tokoh pendiri kota Banjarbaru.[5]
123Halidi, Yusuf (2023). Ulama Besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1122-1227 H / 170 - 1812 M). Bantul, D.I. Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)