Anastasius Bibliothecarius adalah keponakan dari Uskup Arsenius dari Orta, yang memiliki tugas penting sebagai seorang Legatus kepausan (duta kepausan, wakil Paus bagi bangsa-bangsa).[1] Anastasius mempelajari Bahasa Yunani dari biarawan Romawi Timur dan memperoleh suatu pendidikan yang tidak biasa pada jamannya, sehingga ia tampil sebagai seorang rohaniwan Roma yang paling terpelajar dalam periode barbar abad ke-9.[2]
Kepala biarawan Santa Maria
Pada masa kepausan Paus Nikolaus I (858–867), Anastasius menjabat sebagai abas di Santa Maria in Trastevere di kawasan seberang Sungai Tiber. Ia beberapa kali dipercaya paus untuk menangani berbagai urusan gereja. Anastasius juga aktif menulis dan menerjemahkan karya-karya berbahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Salah satu terjemahannya adalah biografi Santo Yohanes Sang Pengasih yang dipersembahkan kepada Nikolaus I. Sejarawan Ernst Perels menilai bahwa Anastasius kemungkinan berperan sebagai penulis bayangan sejumlah surat resmi kepausan pada masa itu.[3]
Penerus Nikolaus I, Paus Adrianus II (867–872), kemudian mengangkat Anastasius sebagai bibliothecarius atau kepala perpustakaan dan arsip Gereja Roma. Jabatan penting yang berkedudukan di Lateran Palace tersebut memberinya pengaruh yang lebih besar dalam lingkungan kepausan.[4]
Pustakawan Gereja Roma
Pengganti Nikolas, Paus Adrianus II (867-872) menetapkan Anastasius sebagai pustakawan Gereja Roma, sebuah posisi penting yang memberikannya banyak pengaruh kepada tahta Kepausan.
Ketika mereka tiba di Konstantinopel, Konsili Ekumenis Kedelapan sedang berlangsung dan Anastasius yang menghadiri sesi terakhir (Februari870) dengan berapi-api membela perkara kepausan dan melakukan pelayanan bagi duta kepausan.
Pada saat mereka kembali, duta kepausan dirampok, dan "Surat Keputusan" konsili dicuri. Namun, mereka telah memberikan hampir semua pernyataan kesetiaan dari para uskup Yunani kepada Anastasius, yang juga memiliki salinan dari "Keputusan" itu, dan dengan demikian dapat membawa dokumen tersebut kepada Paus. Atas perintah Paus, ia menerjemahkan "Keputusan" itu ke dalam bahasa Latin.
Pengaruh selanjutnya
Penerus Pope Adrian II, yaitu Paus Yohanes VIII (872–882), juga memberikan penghargaan kepada Anastasius. Ia mengukuhkannya kembali dalam jabatan pustakawan, mempercayakan berbagai urusan penting kepadanya, serta mendorongnya untuk melanjutkan kegiatan sastra dan penerjemahan.
Anastasius juga menjalin korespondensi dengan patriark Bizantium yang telah dilengserkan, Fotios I dari Konstantinopel. Ia berupaya menjadi perantara antara patriark tersebut dan paus, serta meredakan perdebatan mengenai Roh Kudus dengan mengusulkan bahwa pemahaman Latin tentang istilah processio (prosesi) dari Roh Kudus dari Putra dapat dipahami dalam arti missio (pengutusan).
Kajian modern juga menyimpulkan bahwa Anastasius berperan dalam penyebaran klaim yang terkandung dalam Pseudo-Isidorian Decretals. Melalui jaringan korespondensi yang intens antara Timur dan Barat, ia dipandang sebagai salah satu tokoh yang turut membentuk dan memperkuat klaim-klaim kepausan pada masa tersebut.[5]
Dugaan sebagai Antipaus Anastasuis
Jika bagian dari tawarikh Hincmar dari Reims adalah asli (Mon. Germ. Hist.: Scriptores, I, 447) dan Hincmar tidak rancu antara dua orang, maka sang pustakawan Anastasius adalah identik dengan rohaniwan Anastasius yang pada tahun 874 menjadi imam resmi gereja St. Marcellus.
Anastasius yang imam ini telah melarikan diri dari Roma pada 848 dan berpindah-pindah ke kota-kota. Mengenai pelariannya ini, tercatat bahwa ia diekskomunikasikan oleh sebuah konsili Romawi pada tahun 850, dan karena ia tidak kembali, ia dikutuk dan dipecat oleh konsili lainnya pada tahun 853.
Setelah kematian Paus Leo IV pada 855, Anastasius imam dipilih sebagai Antipaus oleh kekaisaran, tetapi Paus Benediktus III yang terpilih secara sah, memperoleh supremasi, dan bertindak baik terhadap anti-pausnya.
Selama masa kepausan Adrianus II, Anastasius tersangkut dalam kesulitan besar: pada tahun 868 seorang famili dekatnya bernama Eleutherius memaksa melarikan putri sang Paus, dan tak lama sesudahnya membunuh sang putri dan ibunya. Si pembunuh dihukum dan Anastasius, yang dituduh sebagai otak pembunuhan itu, dihukum dengan ekskomunikasi dan pemecatan.
Ia tinggal di istana kekaisaran, dan atas intervensi kaisar namanya dibersihkan melawan perintah Paus. Hergenröther (Photius, II, 230-240) menyatakan bahwa pustakawan dan imam Anastasius (sang Antipaus) adalah orang yang sama, sementara Joseph Langen (Geschichte der römischen Kirche, III, 270 sqq.) menganggap bahwa mereka adalah orang yang berbeda. Pada Agustus879, Zacharias dari Anagni tampil sebagai pustakawan Gereja Roma, sehingga kemungkinan besar Anastasius meninggal tak lama sebelum tanggal ini.
Penerjemah dan Pengarang
Anastasius menerjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin berbagai teks, termasuk Acta atau risalah Konsili Nikea II serta Konsili Konstantinopel IV, serta sejumlah hagiografi para santo dan berbagai tulisan lainnya. Penguasaan bahasa Yunani pada masa itu sangat jarang, sehingga ia dianggap sebagai salah satu dari sedikit orang yang mampu merevisi dan menyempurnakan hasil terjemahannya sendiri.[6]
Ia juga menghimpunkan karya historis, "Chronographia tripartita", dari karya dalam bahasa Yunani oleh Theophanes, Nicephorus, dan Syncellus, dan membuat sebuah koleksi dokumen mengenai Paus Honorius I. Beberapa surat penting yang ditulisnya telah ditemukan dan dipelihara.
↑ostmannj01. "The Pope's Ghostwriter". Dumbarton Oaks (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-24. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
↑Evangelos Chrysos, “The Principle of Pentarchy at the Council(s) (869–870 dan 879–880),” dalam Maria Youni dan Lydia Paparriga-Artemiadi (eds.), Constantinos G. Pitsakis: In Memoriam. Athena: Akademi Athena, 2023, hlm. 168.
↑Leonardi, Claudio (1999). "Intellectual Life". Dalam Reuter, Timothy (ed.). The New Cambridge Medieval History. Vol.III. Cambridge University Press. hlm.189. ISBN978-0-521-36447-8.