Analisis rasio
Analisis rasio merupakan salah satu metode analisis laporan keuangan. Data kuantitatif yang tersedia di dalam neraca atau laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi dibandingkan satu sama lain. Analisis rasio digunakan untuk menilai kinerja perusahaan di masa lalu dan masa sekarang. Kemungkinan mengenai kinerja perusahaan di masa depan juga dapat dianalisis menggunakan analisis rasio. Ukuran yang digunakan dalam analisis rasio adalah rasio keuangan.[11]
Rasio keuangan yang digunakan untuk analisis rasio memiliki standar tertentu. Standardisasi ini didasarkan mulai kepada catatan kondisi keuangan perusahaan pada tahun sebelumnya. Selanjutnya, standardisasi dinilai dari perusahaan pesaing yang telah tergolong sukses dalam pengelolaan keuangan. Standar lain yang dapat digunakan ialah data rasio akhir dan rasio perusahaan sebagai salah satu anggota dalam suatu kelompok perusahaan. Suatu perusahaan dapat dinilai posisi keuangannya melalui rasio yang telah diberi standar. Standar rasio yang memadai adalah yang memberikan nilai rata-rata dari gabungan perusahaan sejenis. Adanya nilai rata-rata membuat hasil penggolongan kinerja keuangan perusahaan terdiri dari kategori di atas rata-rata, rata-rata atau di bawah rata-rata.[12]
Analisis rasio dalam laporan keuangan juga digunakan untuk mengetahui kelayakan suatu entitas keuangan. Caranya yaitu dengan membandingkan akun-akun yang ada dalam hal keuangan dengan entitas tersebut. Analisis rasio terhadap laporan keuangan utamanya ditujukan kepada investor dan kreditur. Para investor dan kreditur menggunakan analisis rasio untuk memberikan keputusan pemberian investasi dan pinjaman terhadap suatu entitas.[13]
Analisis rasio memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, sulitnya mengadakan penggolongan sektor industri atau sektor jasa pada perusahaan yang bergerak pada beberapa sektor industri atau sektor jasa. Kedua, angka rata-rata yang diperoleh belum dapat dijadikan sebagai referensi spesifik karena hanya memberikan gambaran yang sangat umum dan hanya hasil tafsiran. Ketiga, nilai yang dicatat dapat berbeda dengan nilai aslinya karena adanya penyimpangan nilai pada neraca perusahaan. Keempat, adanya kedok perusahaan yang mengubah isi laporan keuangan menjadi lebih baik dari yang sebenarnya perlu dilaporkan. Terakhir, perusahaan dapat memiliki rasio-rasio keuangan yang baik dan buruk secara bersamaan. Kondisi ini membuat sulitnya penentuan kondisi kesehatan keuangan perusahaan melalui analisis rasio.[14]
Rasio likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan pemenuhan perusahaan terhadap kewajiban jangka pendek. Kewajiban ini berupa pelunasan utang jangka pendek. Dalam perumusannya, rasio likuiditas dapat menghasilkan tiga kondisi, yaitu rasio lancar, rasio cepat dan rasio lambat. Elemen perumusan dalam rasio likuiditas meliputi aset lancar, utang lancar, persediaan uang, kas, efek keuangan dan aset keseluruhan. Nilai rasio lancar diperoleh melalui perbandingan antara aset lancar dengan utang lancar. Nilai rasio cepat diperoleh melalui selisih aset lancar dan persediaan yang dibadingkan dengan utang lancar. Nilai rasio lambat diperoleh melalui penjumlahan kas dan efek keuangan yang kemudian dibandingkan dengan utang lancar. Terdapat satu kondisi lain dalam perumusan rasio likuiditas, yaitu peralihan modal kerja menjadi rasio aset total. Nilainya diketahui melalui pengurangan aset lancar dengan utang lancar yang kemudian dibandingkan dengan aset total. Nilai rasio likuiditas dikatakan baik ketika nilai lukiuiditas lebih besar dari 1 yang menandakan bahwa perusahaan mampu membayar kewajiban utang jangka pendek.[15]
Rasio solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar utang jangka panjang maupun jangka pendek. Jenis-jenis rasio solvabilitas ialah rasio liabilitas terhadap aset, rasio utang berbunga terhadap ekuitas, rasio pendapatan terhadap pembayaran suku bunga dan rasio pendapatan operasional terhadap liabilitas. Rasio liabilitas terhadap aset digunakan untuk menentukan tingkat ketergantungan perusahaan terhadap utang. Perusahaan dengan persentase rasio liabilitas terhadap aset mencapai 80% memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap utang, sementara yang mencapai 100% menandakan terjadinya krisis keuangan. Rasio utang berbunga terhadap ekuitas merupakan rasio solvabilitas yang secara tepat menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang. Rasio ini menggunakan pembilang yaitu utang berbungan dengan penyebut yaitu ekuitas. Ketepatan rasionya disebabkan biaya utang berbunga selalu lebih rendah dibandingkan dengan biaya ekuitas. Sementara itu, rasio pendapatan terhadap pembayaran suku bunga digunakan untuk mengetahui kemampuan pembayaran suku bunga atas pinjaman yang dibayarkan. Rasio pendapatan terhadap pembayaran suku bunga membandingkan laba sebelum pembayaran suku bunga dan pajak dengan pembayaran suku bunga. Sedangkan rasio pendapatan operasional terhadap liabilitas hanya membandingkan antara pendapatan operasional dengan liabilitas.[16]