Ibu kota kabupaten in Nusa Tenggara, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Ibu kota kabupaten in Nusa Tenggara, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Amlapura (Aksara Bali: ᬅᬫ᭄ᬮᬧᬸᬭ) adalah Ibukota dari Kabupaten Karangasem di Provinsi Bali yang juga menjadi pusat utama pemerintahan dan ekonomi di Kabupaten Karangasem, dan menjadi wilayah metropolitan terbesar di Karangasem. Sebelumnya Amlapura bernama Kuta Negara Karangasem tapi berubah pada tahun 1963 setelah letusanGunung Agung.[3]
Setelah letusan Gunung Agung tahun 1963, sebuah kota baru harus dibangun karena sebagian besar kompleks perkantoran yang dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda hancur oleh banjir lahar. Nama Amlapura berasal dari kata amla ("buah") dan pura ("kota" atau "tempat"), maka secara arfiah Amlapura berarti "Kota Buah" atau "Tempat Buah".[1] Nama ini merujuk pada nama Puri Kelodan sebelumnya, yaitu Puri Amlaraja. Nama ini juga mengingatkan kita pada sebuah tempat yang disebutkan dalam kolofonNegarakretagama, di desa Negarakretagama atau Warnana (Griya Pidada Karangasem), yang menyatakan bahwa lontar telah selesai ditulis dalam bahasa Amlanegantun (wus puput sinurat ring Amlanagantu). Selain itu, ada pula yang menyebutkan dalam Babad Dalem.[1] Lagu tahun 1991 Amlapura dalam album Tin MachineTin Machine II menyebutkan tempat yang pernah dikunjungi David Bowie, sang pentolan band tersebut.[4]
Geografi
Iklim
Amlapura memiliki iklim sabana tropis (Aw) dengan curah hujan sedang hingga sedikit dari bulan April sampai Oktober dan curah hujan lebat dari bulan November sampai Maret.
Untuk ketiga kalinya berturut-turut, Kota Amlapura menerima Penghargaan Adipura sebagai Kota Kecil Terbersih di Indonesia dan juga menerima Penghargaan Adiwiyata untuk keempat kalinya berturut-turut untuk Sekolah Dasar Terbersih.[6]
Panorama Amlapura pada sore hari (geser gambar ke kanan untuk melihat lebih banyak)
Peninggalan
Lontar
Museum Pustaka Lontar di Penaban, 5km di utara Amlapura, merupakan museum lontar, bengkel restorasi, dan pusat penelitian. Museum ini diresmikan pada bulan November 2017 di hadapan maestro lontar Ida I Dewa Gede Catra dan peneliti lontar Belanda Profesor Hinzler, yang juga merupakan salah satu kurator museum. Berbagai bangunannya, bergaya tradisional Bali, tersebar di lahan seluas satu setengah hektar. Hingga tahun 2021, museum ini menampung 313 cakap (volume lontar). Atas permintaan, mereka juga melakukan apa yang dapat disebut sebagai 'layanan rumah', di mana mereka membantu pemilik lontar untuk merawat lontar mereka. Tim museum telah mendigitalkan dan mengunggah 130 lontar secara daring. Pusat ini menyediakan pendidikan lengkap untuk Sang Kul Putih, salah satu dari dua disiplin ilmu pemangku (pendeta). Sebagai pengantar ke dunia lontar, tempat ini juga menyelenggarakan lokakarya tentang himne Bali, pembuatan naskah lontar, dan aksara Bali. Museum ini beroperasi dengan donasi.[7]