Pohon
Pohon Ambrosia memiliki pola pertumbuhan tegak yang dipengaruhi oleh kualitas tanah, jenis batang bawah, lingkungan, dan teknik pengelolaan. Pohon ini menghasilkan cabang lateral yang memerlukan pemangkasan teratur untuk mempertahankan vitalitas dan ukuran buah. Dua tahun pertama pertumbuhan pohon membutuhkan pelatihan cabang secara intensif guna memastikan sudut cabang yang optimal untuk pembentukan buah dan produktivitas.[5] Varietas ini memungkinkan penanaman dengan jarak rapat, memberikan hasil panen yang tinggi, dan membutuhkan sedikit pemangkasan selama musim dingin.[6] Untuk penyerbukan, Ambrosia kompatibel dengan beberapa varietas apel lain, termasuk Cortland, Fuji, dan Granny Smith.[7]
Buah
Buah Ambrosia berukuran sedang hingga besar, dengan diameter berkisar antara 6,8 hingga 7,5 cm dan berat rata-rata sekitar 215 gram. Kulit buah sebagian besar berwarna merah mengilap dengan bercak kuning, sedangkan daging buah berwarna krem, padat, berair, dan manis dengan aroma dan rasa menyerupai pir. Tingkat keasaman buah rendah, dan dagingnya cenderung tahan terhadap oksidasi, sehingga dapat dikonsumsi secara langsung maupun digunakan untuk penyajian dalam salad.[5]
Pohon Ambrosia mulai berbunga pada pertengahan hingga akhir musim, dan buahnya baru dapat dipanen ketika musim berakhir. Di wilayah asalnya, lembah Similkameen, British Columbia, panen biasanya berlangsung antara pertengahan hingga akhir September. Di Ontario, musim panen jatuh antara September hingga Oktober, sedangkan di Quebec panen dilakukan sekitar pertengahan Oktober.[5]
Buah Ambrosia menghasilkan etilen dalam jumlah rendah dan tidak mengalami peningkatan etilen yang biasanya terjadi pada buah dengan pematangan klimakterik. Oleh karena itu, konsentrasi etilen dalam buah tidak menjadi indikator yang akurat untuk menentukan kematangan. Sebagai gantinya, warna kulit dan grafik pewarnaan amilum digunakan sebagai metode standar untuk menentukan waktu panen dan kualitas buah. Kondisi irigasi di kebun juga berpengaruh terhadap kualitas buah selama penyimpanan, termasuk risiko soft scald (kerusakan pada kulit buah akibat kesalahan penyimpanan) dan penurunan kualitas yang menjadi pertimbangan dalam manajemen pascapanen.[8]