Aloha Airlines Penerbangan 243 merupakan penerbangan penumpang domestik berjadwal yang dioperasikan oleh Aloha Airlines antara Hilo dan Honolulu di Hawaii. Pada 28 April 1988, pesawat Boeing 737-297 yang melayani penerbangan ini mengalami kerusakan parah setelah terjadi penurunan tekanan kabin mendadak di udara, yang disebabkan oleh terlepasnya sebagian badan pesawat akibat perawatan yang kurang memadai dan keausan logam. Meskipun demikian, pesawat berhasil mendarat dengan selamat di Bandar Udara Kahului di Maui.
Satu-satunya korban jiwa adalah pramugari Clarabelle "C.B." Lansing, yang terlempar keluar dari pesawat. Sebanyak 65 penumpang dan awak mengalami luka-luka. Besarnya kerusakan akibat dekompresi, hilangnya satu awak kabin, dan keberhasilan pendaratan darurat menjadikan kecelakaan ini sebagai peristiwa penting dalam sejarah penerbangan, dengan dampak luas terhadap kebijakan dan prosedur keselamatan penerbangan.[2]
Pesawat
Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini adalah Boeing 737-297 dengan registrasi N73711, diproduksi pada tahun 1969. Sebelum kecelakaan, pesawat ini telah mencatat 35.496 jam terbang dalam 89.680 siklus penerbangan (lepas landas dan pendaratan). Tingginya jumlah siklus ini disebabkan oleh penggunaannya pada rute jarak pendek.[2] Namun, hal ini juga berarti bahwa ketinggian maksimum dan perbedaan tekanan kabin tidak selalu tercapai pada setiap penerbangan, sehingga jumlah siklus tekanan penuh yang setara (equivalent full pressurization cycles) jauh lebih rendah.[2]
Selama proses sertifikasi Boeing 737, bagian badan pesawat yang mewakili setengah dari keseluruhan badan pesawat telah menjalani 150.000 siklus penekanan penuh (dua kali lipat dari target masa pakai desain ekonomis sebesar 75.000 siklus dan 51.000 jam).[2] Namun, pengujian ini tidak sepenuhnya mempertimbangkan dampak korosi dalam kondisi operasional nyata. Pada saat kecelakaan, Aloha Airlines mengoperasikan dua pesawat Boeing 737 dengan jumlah siklus penerbangan tertinggi di dunia, dengan pesawat yang mengalami kecelakaan ini berada di posisi kedua.[2]
Awak
Pesawat dipimpin oleh Kapten Robert Schornstheimer (44 tahun), seorang pilot berpengalaman dengan 8.500 jam terbang (6.700 jam di antaranya menggunakan Boeing 737).[2] Kopilotnya adalah Mimi Tompkins (36 tahun), yang juga memiliki pengalaman luas dengan total 8.000 jam terbang, termasuk 3.500 jam pada tipe pesawat yang sama.[2]
Kecelakaan
Tampak samping dari badan pesawat yang robekRute Penerbangan 243: merah – rute yang sebenarnya dilalui, termasuk pendaratan darurat di Maui; biru – rencana penerbangan awal yang tersisa
Penerbangan 243 lepas landas dari Bandar Udara Internasional Hilo pada pukul 13.25 waktu setempat dengan membawa 5 awak dan 90 penumpang (termasuk seorang pengendali lalu lintas udara yang duduk di kursi tambahan kokpit), dengan tujuan Honolulu.[2] Tidak ditemukan kejanggalan selama pemeriksaan prakeberangkatan, dan pesawat tersebut bahkan telah menyelesaikan tiga penerbangan pulang-pergi tanpa masalah sebelumnya pada hari yang sama antara Honolulu, Hilo, Maui, dan Kauai. Kondisi cuaca telah diperiksa dan tidak ada peringatan khusus terhadap fenomena cuaca di sepanjang rute penerbangan.[2]
Setelah lepas landas dan pendakian ke ketinggian penerbangan berlangsung normal, pesawat mencapai ketinggian jelajah sekitar 24.000 kaki (7.300m). Pada pukul 13.46, sekitar 23 mil laut (43km; 26mi) di selatan-tenggara Kahului, sebuah bagian di sisi kiri atap pesawat tiba-tiba robek disertai suara desiran kuat.[2] Kapten merasakan pesawat bergoyang ke kiri dan kanan, sementara kendali terasa longgar. Kopilot melihat potongan insulasi berwarna abu-abu "melayang" di dalam kokpit. Pintu kokpit terlepas, dan dari kursinya kapten dapat melihat "langit biru di tempat di mana sebelumnya terdapat langit-langit kabin kelas satu".[2] Sebagian besar atap pesawat terlepas, mencakup seluruh bagian atas kulit pesawat dari belakang kokpit hingga area depan sayap, sepanjang sekitar 18 kaki (5,5m).[2][3]
Satu-satunya korban jiwa adalah kepala pramugari Clarabelle "C.B." Lansing (58 tahun), yang memiliki pengalaman kerja selama 37 tahun. Ia tersapu keluar dari pesawat saat berdiri di dekat baris kursi kelima, dan jasadnya tidak pernah ditemukan.[2] Delapan orang lainnya, termasuk satu pramugari, mengalami luka serius, sementara 57 penumpang mengalami luka ringan.[2] Seluruh penumpang diketahui duduk di kursi masing-masing dan mengenakan sabuk pengaman saat penurunan tekanan kabin terjadi.
Pada saat kejadian, kopilot Tompkins sedang menerbangkan pesawat, sebelum kapten mengambil alih kendali dan segera melakukan penurunan darurat.[2] Awak pesawat menyatakan keadaan darurat dan mengalihkan penerbangan ke Bandar Udara Kahului untuk pendaratan darurat. Dalam proses pendekatan, mesin kiri mengalami kegagalan, dan awak tidak yakin apakah roda pendarat depan telah terbuka dengan benar. Meski demikian, pesawat berhasil mendarat dengan normal di landas pacu 02, sekitar tiga belas menit setelah kejadian.
Setelah mendarat, perosotan evakuasi darurat dikeluarkan dan penumpang segera dievakuasi.[4] Sebanyak 65 orang dilaporkan mengalami luka-luka, dan delapan di antaranya serius. Pada saat itu, Pulau Maui belum memiliki rencana tanggap darurat untuk kejadian semacam ini. Para korban luka dibawa ke rumah sakit menggunakan kendaraan wisata milik Akamai Tours, yang dikemudikan oleh staf kantor dan mekanik, karena pulau tersebut hanya memiliki dua ambulans. Pengendali lalu lintas udara menghubungi Akamai dan meminta sebanyak mungkin kendaraan berkapasitas 15 penumpang untuk datang ke bandara yang berjarak sekitar 3 mil (4,8km) dari lokasi mereka. Dua pengemudi Akamai yang merupakan mantan paramedis kemudian mengatur triase di landasan.[2]
Konstruksi
Pesawat yang mengalami kecelakaan ini merupakan unit dengan nomor lini produksi 152. Pada pesawat Boeing 737 mulai dari nomor lini 292, ditambahkan lapisan luar tambahan pada sambungan tumpang (lap joint) badan pesawat, sehingga meningkatkan ketebalan struktur pada bagian tersebut.[2]
Pada pesawat dengan nomor lini hingga 291, termasuk pesawat yang mengalami kecelakaan, digunakan metode cold bonding (perekatan dingin) dengan menggunakan perekat tanpa pemanasan tinggi dengan bantuan pengikat untuk menjaga kontak permukaan sambungan. Perekat ini memungkinkan beban struktur dialihkan melalui sambungan tersebut. Metode ini menggunakan kain serat berlapis epoksi yang reaktif pada suhu ruang, yang disimpan dalam suhu es kering sebelum digunakan dan kemudian mengeras setelah perakitan. Proses ini bertujuan mengurangi berat dan biaya produksi, serta memungkinkan penggunaan panel kulit pesawat yang lebih tipis tanpa mengurangi ketahanan terhadap kelelahan struktur. Namun, desain ini memiliki kelemahan, terutama terkait korosi dan retakan kelelahan.[2]
Penambahan lapisan luar pada desain selanjutnya memperbaiki sambungan dengan menghilangkan titik konsentrasi tegangan tajam (knife-edge fatigue) serta mengurangi risiko korosi akibat masuknya kelembapan ke dalam sambungan.[2]
Laporan akhir
Penyelidikan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) menemukan bahwa kualitas inspeksi dan program perawatan tidak memadai. Pemeriksaan badan pesawat yang dilakukan pada malam hari menyulitkan deteksi kerusakan pada kulit luar pesawat.
Kegagalan struktur badan pesawat bermula dari sambungan tumpang di bagian S-10L, yang disebabkan oleh retakan kelelahan pada beberapa titik di sekitar lubang paku keling, serta terlepasnya sambungan penguat (tear strap disbond), yang menghilangkan karakteristik keselamatan berlapis (fail-safe) pada struktur pesawat. Retakan ini berawal dari tepi tajam pada lubang paku keling yang ditanam rata, yang menyebabkan konsentrasi tegangan tinggi akibat terputusnya ikatan pada sambungan.[2]
Dalam laporan akhirnya, NTSB menyimpulkan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kegagalan program perawatan Aloha Airlines dalam mendeteksi kerusakan signifikan pada sambungan badan pesawat. Faktor yang turut berkontribusi meliputi kurangnya pengawasan manajemen terhadap perawatan, kegagalan FAA dalam mewajibkan inspeksi tertentu, serta tidak adanya tindakan perbaikan menyeluruh setelah ditemukannya kelemahan awal pada desain sambungan tersebut.[2]
Salah satu anggota dewan menyampaikan pendapat berbeda, dengan menilai bahwa retakan kelelahan yang tidak terdeteksi merupakan penyebab utama, sementara peran Aloha Airlines tidak seharusnya disorot secara khusus karena kecelakaan tersebut dianggap sulit diperkirakan sebelumnya dan melibatkan kegagalan sistem secara lebih luas.[2]
Dampak lanjutan
Kerusakan tambahan pada pesawat meliputi stabilisator horizontal yang penyok akibat hantaman puing, serta stabilisator vertikal yang juga mengalami kerusakan ringan. Tepi depan kedua sayap dan penutup mesin turut mengalami kerusakan. Pesawat dinyatakan tidak dapat diperbaiki, dibongkar di lokasi, dan dihapus dari daftar operasional.
Bagian badan pesawat yang terlepas tidak pernah ditemukan.[5] Penyelidikan oleh Dewan NTSB menyimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh kelelahan logam yang diperparah oleh korosi celah (crevice corrosion). Usia pesawat yang telah mencapai 19 tahun, serta pengoperasiannya di lingkungan pesisir yang lembap dan asin, turut berkontribusi terhadap kondisi tersebut.[6][7]
Dalam wawancara, seorang penumpang bernama Gayle Yamamoto menyatakan bahwa ia sempat melihat retakan pada badan pesawat saat naik, namun tidak melaporkannya.[2]
Pada tahun 1995, sebuah taman di Terminal 1 Bandar Udara Internasional Honolulu dinamai untuk menghormati pramugari Clarabelle "C.B." Lansing.[8]
Dramatisasi media
Peristiwa Penerbangan 243 diangkat dalam episode "Hanging by a Thread" dari seri dokumenter Kanada Mayday (2005), dan dalam episode khusus "Ripped Apart" (2007).[9][10] Kisah ini juga diadaptasi menjadi film televisi berjudul Miracle Landing (1990), dan ditampilkan dalam program Why Planes Crash pada episode berjudul "Breaking Point".
↑Macpherson, Malcolm (22 Juli 1998). The Black Box (dalam bahasa Inggris). New York: Harper Collins. ISBN978-0-688-15892-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Russell, Alan M.; Lee, Kok Loong, ed. (2010). Structure-property relations in nonferrous metals. Engineering case studies online (dalam bahasa Inggris). Hoboken, NJ: John Wiley. ISBN978-0-471-64952-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑"Aloha incident"[Insiden Aloha]. Corrosion Doctors (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 Mei 2026.
↑"Cultural Gardens". State of Hawaii Airport (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 Mei 2026.