Sultan Aji Muhammad Salehuddin I (nama lahir: Aji Kuncar) adalah Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-16 yang memerintah pada periode 1816–1845. Ia merupakan putra sulung dari Sultan Aji Muhammad Muslihuddin dan Aji Ratu Tatin, serta dilahirkan di Tepian Pandan (kini Tenggarong), di Istana Kesultanan, pada tahun 1789.
Pemerintahan
Sultan Aji Muhammad Salehuddin I naik takhta Kesultanan Kutai Kartanegara pada usia 27 tahun pada tahun 1816, menggantikan ayahandanya, Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, yang wafat pada tahun yang sama. Pada masa pemerintahannya, ia menyaksikan wafatnya permaisuri sekaligus ibunda, Aji Ratu Kesuma Ningrat, pada 6 Safar 1251 Hijriah pukul 06.00 di Istana Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, yang kemudian dimakamkan di samping Sultan Aji Muhammad Muslihuddin dengan upacara pemakaman kerajaan.
Dalam bidang perekonomian, pemerintahan Sultan Aji Muhammad Salehuddin I ditandai dengan pembukaan dan penguatan jalur ekspor ke berbagai kerajaan dan negara lain seiring dengan berkembangnya pelabuhan kesultanan di Samarinda. Komoditas yang diperdagangkan antara lain garam, tembakau, timah, dan batu karang. Dalam kehidupan pribadi, pada tahun 1812 ia menikahi Aji Putri Jawiyah, putri Sultan Ibrahim Alamsyah dan Aji Putri Agung Suwasya dari Kesultanan Paser. Sebagai bagian dari hubungan kekerabatan tersebut, Sultan Ibrahim Alamsyah menghadiahkan sebuah istana peristirahatan di Tanjung Batu serta wilayah Tanah Balik, yang berpusat di Tanjung Jumlai dan mencakup kawasan hingga Balikpapan dan Samboja.
Selain itu, dalam suatu peristiwa pencurian sarang burung walet di gua-gua di hulu Sungai Toyu, Sultan Ibrahim Alamsyah meminta bantuan Sultan Aji Muhammad Salehuddin I untuk menangkap para pelaku serta mengawasi wilayah perkampungan Muara Pahu yang berada di sekitar perkebunan rotan milik Kesultanan Kutai.
Keturunan
KDYMM Ratu Permaisuri
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Permaisuri Aji Bolong Binti Pangeran Patta (Cucu Andi Petta To Rawe Bin La Madukelleng) dan Aji Bungsu (Kampung Panji) menikah dengan Sultan Aji Muhammad Salehuddin I berputra:
Aji Koetai
Aji Indra Gelar Aji Pangeran Ratu I (Mantan Putra Mahkota Sultan Aji Muhammad Salehuddin I)
Aji Risai Puri
Aji Pangeran Mangku wafat pada Bulan Sya'ban pada tahun 1277 Hijriah dimakamkan di Pemakaman Raja-raja Kutai
Aji Gedeh
Aji Pangeran Dipati
Aji Gau Gelar Aji Pangeran Ratu II
KDYMM Ratu Mahadewi
KDYMM Seri Paduka Baginda Ratu Mahadewi Aji Ratu Jawiyah Binti Sultan Ibrahim Alamsyah Bin Pangeran Soerianata Bin Ratu Agung Bin Sultan Aji Muhammad Alamsyah I menikah dengan Sultan Aji Muhammad Salehuddin I pada tahun 1812 di karuniai anak:
Aji Boma gelar Aji Pangeran Surya Hadi Menggala (dimakamkan di Pemakaman Raja-raja Kutai Kartanegara)
KDYMM Ratu Leko
YM Seri Paduka Baginda Ratu Leko Aji Ratu Mudra atau Aji Ratu Zuziah gelar Aji Ratu Agung Binti Aji Pangeran Berajanata menikah dengan Sultan Aji Muhammad Salehuddin I dikaruniai anak:
Menikah dengan Aji Lukan (dimakamkan di Pemakaman Keluarga Gunung Pedidik Kelurahan Sukarame, Tenggarong)
Aji Dabal Gelar Aji Raden Kusuma
Aji Linsa
Aji Tuga
Aji Teki/Aji Kumala wafat pada 21 Jumadil Akhir malam Jumat pukul 2 setengah 1335 Hijriyah (dimakamkan di Makam Raja-raja Kutai Kartanegara) menikah dengan Aji Pangeran Ainuddin Gelar Aji Pangeran Kesuma Adiningrat
Aji Jamin
Aji Abdul Hamid Gelar Aji Pangeran Ratu IV
Aji Muhammad Noerdin Gelar Aji Raden Ario Joyo Boyo
Aji Rahmah bersuamikan Aji Hakim Gelar Aji Raden Nata Wijaya I
Aji Pangeran Perbatasari
Aji Kipai Ainun Zariah gelar Aji Ratu Agung. Tunangan Putra Mahkota Raja Gowa ke 32, Tidak Mempunyai Keturunan dan Tidak Menikah. Wafat dalam usia 70 Tahun.
Aji Pangeran Panji berputri: Aji Azizah meninggal tahun 1306 Hijriah dimakamkan di Pemakaman Raja-raja Kutai
Wafat
Sultan Aji Muhammad Salehuddin I wafat setelah setahun peperangan hebat melawan Belanda pada tahun 1845 di Istana Kota Bangun, Kesultanan Kutai Kartanegara dalam usia 56 tahun. Jenazah Sultan dibawa ke Ibukota Kesultanan yakni Tenggarong. Pada waktu pemakaman itu , banyak sekali rakyat dan keluarga Sultan berkumpul di Tenggarong, pada kesempatan itu rakyat mengucapkan salam perpisahan kepada Sultan. Jenazah Sultan dimakamkan di Makam Raja-raja Kutai Kartanegara.
Referensi
Artikel bertopik bangsawan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.