Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(April 2025)
Artikel ini ditulis menyerupai opini penulis Wikipedia mengenai suatu topik, alih-alih pendapat para ahli.. Bantulah menyuntingnya dengan menghapus bagian tersebut dan menuliskannya sesuai dengan gaya penulisan ensiklopedia.
Ahmad Hartuki lahir pada 11 Juni 1945 di Dusun Sepat, Desa Talun Blandong, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto. Ia merupakan anak dari pasangan Sumo Karso Sadin (lahir 1906) dan Jasmani (lahir 1920), dan tumbuh dalam keluarga dengan lima bersaudara.
Masa Kecil dan Kepindahan
Pada usia 7 tahun, tahun 1952, Ahmad Hartuki bersama keluarganya pindah ke Dusun Sumurpandan, Desa Bandungsekaran, Kecamatan Balongpanggang. Kepindahan ini dipicu oleh permintaan keluarga dan kondisi sosial saat itu, terutama adanya wabah penyakit serta keinginan ayahnya untuk mengelola tanah warisan dari neneknya, Mbah Kati. Di tempat baru itu, pada tahun 1956, ayahnya membangun sebuah musholla kayu panggung di depan rumah untuk menjadi pusat kegiatan keagamaan, meskipun saat itu masyarakat sekitar belum banyak yang menjalankan ibadah secara aktif.
Pendidikan dan Perjalanan Keagamaan
Ahmad Hartuki memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat Negeri Mojogede pada tahun 1954 dan lulus pada tahun 1960. Semangat keagamaannya tumbuh ketika musholla yang dibangun ayahnya mulai rutin dikunjungi para tokoh agama dari luar desa. Salah satu ulama yang kemudian sangat memengaruhi hidupnya adalah Kyai Khusen dari Luntas, Deket, Lamongan.
Kedekatan Ahmad Hartuki dengan Kyai Khusen sangatlah kuat. Ia dipercaya untuk membantu di dapur dan menjaga tambak pesantren, dua peran penting yang mencerminkan kepercayaan dan kedekatan emosional. Ia juga sering diajak ikut berdakwah ke berbagai daerah oleh Kyai Khusen. Karena kedekatannya ini, masyarakat yang ditemui saat berdakwah kerap menyangka bahwa beliau adalah putra sang kyai, dan memanggilnya dengan sebutan "Gus Ahmad Hartuki."
Suatu waktu, saat singgah di Dusun Belud, ada seorang tokoh masyarakat yang berkeinginan menjodohkan putrinya dengan Ahmad Hartuki. Setelah melalui proses restu dari orang tua, pernikahan pun dilangsungkan pada 7 Juli 1967. Istrinya bernama Mudrikah, dan dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai tujuh orang anak, terdiri dari lima laki-laki dan dua perempuan.
Masa Perjuangan dan Ancaman PKI
Pada tahun 1964, Ahmad Hartuki aktif di Kepanduan GP Ansor Balongpanggang. Masa itu merupakan periode berat, karena pengaruh ideologi komunis sangat kuat di daerah tersebut. Suatu malam seusai rapat, beliau nyaris menjadi korban kekerasan PKI karena dianggap sebagai tokoh Islam. Ketika kelompok PKI mengepung warung kopi tempat ia bersembunyi, secara mengejutkan Ahmad Hartuki berhasil lolos dari pengepungan. Peristiwa itu membuat para komunis kebingungan karena tidak bisa menemukannya.
Pada masa G30S/PKI tahun 1965, GP Ansor bersama para tokoh NU mengambil peran penting dalam menghadang pembentukan Dewan Revolusi oleh PKI di wilayah Balongpanggang. Ahmad Hartuki termasuk dalam barisan penjaga balai desa untuk mengamankan para simpatisan PKI yang ditahan. Menjelang subuh, sejumlah pasukan dari wilayah utara datang dan melakukan pembantaian terhadap para tahanan.
Peran Sosial dan Keagamaan Pasca-Orde Lama
Pasca tragedi 1965, kesadaran beragama masyarakat mulai meningkat. Tokoh agama dari Jombang dan Lamongan mulai didatangkan, termasuk KH Atiq Ismail dari Pagerwojo, Jombang, yang mengajar agama Islam di Sekolah Rakyat Desa Bandungsekaran. Ahmad Hartuki, meskipun seusia dengan KH Atiq, tetap rendah hati dan ikut belajar agama darinya. Ia tinggal di rumah seorang pengusaha tahu bernama Semani, tempat ia juga bekerja.
Sebelum menikah, Ahmad Hartuki sempat menjabat sebagai Kepala Dusun Sumurpandan. Namun, setelah kebijakan Orde Baru yang menghapus partai-partai lama dan memaksa semua pejabat masuk Golkar, ia dicopot dari jabatannya dan bahkan kehilangan hak pilih pada pemilu tahun 1971 dan 1977. NU secara struktural mulai terpinggirkan, termasuk MWC NU Balongpanggang yang tidak aktif mengadakan konferensi.
Kiprah di NU dan Pendiri Yayasan Pendidikan
Pada periode 1965–1971, Ahmad Hartuki menjabat sebagai Bendahara GP Ansor Balongpanggang. Ketika terjadi konflik internal MWC NU Balongpanggang karena ketua tanfidiyah bergabung dengan Golkar, Ahmad Hartuki dan para pengurus lainnya segera melakukan perombakan kepengurusan. Ia kemudian didapuk menjadi Wakil Sekretaris MWC NU pada periode ketiga, mendampingi Ketua Tanfidiyah Mohammad Tasyir.
Setelah masa sulit selama Orde Baru, NU mulai bangkit kembali. Pada konferensi MWC NU Balongpanggang tahun 1995, Ahmad Hartuki dipercaya sebagai Wakil Syuriyah MWC NU, mendampingi Ketua Tanfidiyah H. Moh. Dawam. Jabatan tersebut terus diemban hingga akhir hayatnya pada 7 April 2022.
Sebagai wujud dedikasi terhadap dunia pendidikan dan keberlanjutan perjuangan keagamaan, Ahmad Hartuki mendirikan Yayasan Pendidikan Mambauzzahidin. Harapannya, yayasan ini dapat menjadi warisan dan dilanjutkan oleh anak cucunya kelak.
Semoga seluruh amal jariyah, perjuangan, dan khidmat beliau kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama diterima oleh Allah SWT. Aamiin.