Adipati Soero Adinegoro (1752–1833), atau juga ditulis sebagai Adipati Suroadinegoro, lahir dengan nama Han Sam Kong (Hanzi:韓三江), dan terkadang dikenal sebagai Baba Sam, dulu adalah seorang priyayi dan pejabat pemerintah berlatar belakang Tionghoa-Jawa yang terkenal karena memimpin wilayahnya dengan baik.[1][2][3][4]
Setahun kemudian, pada tahun 1809, Daendels mempromosikan Soero Adinegoro menjadi Adipati, yang merupakan gelar tertinggi dalam aristokrasi Jawa.[5] Adipati Soero Adinegoro juga diangkat menjadi Bupati dari Malang.[5][7] Kemudian, Soero Adinegoro juga ditugaskan untuk memimpin Sidayu dan Tuban.[5][7] Sejumlah anaknya lalu juga ditunjuk sebagai pejabat pemerintah.[1][5]
Namun, pada tahun 1818, Soero Adinegoro dan anak-anaknya tiba-tiba diberhentikan dari jabatan mereka.[1] Diperkirakan bahwa pemerintah Hindia Belanda mulai merasa terancam dengan kekuatan dari keluarga Han dari Lasem, sehingga pemerintah Hindia Belanda ingin menguasai Tapal Kuda secara langsung.[1]
Adipati Soero Adinegoro akhirnya meninggal pada tahun 1833.[1]
Keturunan
Adipati Soero Adinegoro memiliki 26 orang anak.[5] Ia menyerahkan salah satu anaknya, Raden Panderman (lahir pada tahun 1778), untuk diadopsi oleh adiknya, Raden Soero Adiwikromo, yang menjabat sebagai Ronggo dari Besuki (1776), Tumanggung dari Puger dan Bondowoso (1796), serta terakhir sebagai Bupati dari Tegal.[3][5] Raden Panderman kemudian menggantikan ayah angkat dan pamannya, di bawah pengawasan dari Mayor Han Chan Piet, tuan tanah dari Besuki, sebagai Ronggo dari Besuki pada tahun 1794, Tumanggung dari Puger dan Besuki pada tahun 1804, serta sebagai Bupati dari Puger pada tahun 1813, tetapi akhirnya juga diberhentikan bersama anggota keluarga Han dari Lasem yang lain pada tahun 1818.[3][5]
Walaupun begitu, keturunan Raden Panderman berhasil kembali menduduki jabatan pemerintahan, sehingga melanjutkan tradisi keluarga Han dari Lasem.[1][3] Garis keturunan Raden Panderman yang paling terkenal diturunkan dari anaknya, Raden Karaman, yang kemudian dikenal sebagai Kyai Tumanggung Soero Adhi Negoro, yang ditunjuk sebagai Tumanggung dari Kendal, dan kemudian sebagai Bupati dari Probolinggo pada tahun 1856.[3] Anaknya, Pangeran Ario Noto Amiprodjo; cucunya, Raden Mas Adipati Ario Notonegoro; dan cicitnya, Raden Mas Adipati Ario Notohamidjojo, kemudian menggantikannya secara berturut-turut sebagai Bupati dari Kendal.[3]
Selain Raden Panderman, Adipati Soero Adinegoro juga mempunyai empat anak terkemuka yaitu Suro Adiwijoyo (Regent Tuban), Wiro Adinegoro (Regent Bangil), Suryo Adiningrat (Regent Puger) dan Suryo Demijoyo (Bupati Lebet).