Tradisi Adidang adalah tradisi sastra lisan atau tutur dari Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, yang berbentuk syair mengikuti musik yang mengiringi tarian nyambai. Tradisi ini dilaksanakan pada malam hari sebelum pernikahan, di mana para pemuda dan pemudi dari satu marga berkumpul menggunakan busana adat Lampung untuk menari dan melantunkan syair adidang. Tradisi Adidang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2024.[1][2]
Pelaksanaan Adidang
Tradisi lisan Adidang adalah sastra lisan atau tutur yang digunakan sebagai syair mengikuti musik yang ditabuh menggunakan rebana, gulintang dan gong sebagai pengiring pada acara nyambai yakni penampilan tarian-tarian yang dibawakan oleh bujang gadis Lampung di suatu pesta adat yang diselenggarakan. Biasanya Adidang digelar pada malam hari sebelum upacara pernikahan dilaksanakan, pesertanya diikuti oleh perwakilan para bujang gadis dari tiap pekon yang berada dalam satu marga tempat acara itu berlangsung.[1]
Ditambahkannya, Adidang tidak dapat dilakukan tersindiri tanpa ada tarian dan musik dikarenakan adidang biasanya dilaksanakan pada saat acara bujang dan gadis dan acara ini dilaksanakan sebelum hari pernikahan dilaksanakan. Para bujang dan gadis yang mengikuti acara tersebut, biasanya sudah mengenakan busana khas Lampung, para bujang mengenakan stelan jas berwarna gelap dilengkapi sarung gantung dan penutup kepala bermotif tapis. Selain itu mereka juga membawa potongan dau salapan yang diselipkan di kedua jari tangan selama proses tari berlangsung.[1]
Makna Adidang
Adidang merupakan seni tutur/lisan yang digunakan sebagai pengiring pada acara “nyambai” yakni penampilan tarian yang dibawakan oleh para gadis-gadis Lampung pada suatu pesta adat yang diselenggarakan, para gadis tersebut mengenakan pakaian dan kain khas Lampung (Tapis) serta baju dan aksesoris lengkap termasuk mengenakan siger sebagai hiasan dikepala, dengan pelengkap kipas di kedua tangan, mereka menari mengikuti iringan irama gulintang dan tabuhan rebana, bergerak dengan gemulai, melambaikan kipas, dengan gerakan teratur, berdiri, membungkuk, jongkok, memutar kekiri dan kekanan, mengikuti irama dan lantunan syair adidang yang dibawakan. Lantunan syari dalam “adidang” ini biasanya berisikan pesan pesan moral khususnya pada gadis yang sedang melakukan tarian dan umumnya kepada semua gadis yang hadir pada saat acara berlangsung, sebagai bekal mereka dalam kehidupan dan pergaulan sosial.[3][4]
Lantunan syair pertama dalam “adidang” merupakan kalimat pembuka serta salam penghormatan dan pujian kepada para tetua adat dan tetua pekon.
Cabiklah cabik daunmu kangkung
Batang kemuning dibungkus kain
Tabik lah tabik kepala kampung
Kami disini numpang bumain
Syair berikutnya merupan inti dari “adidang” itu sendiri yang berisikan pesan moral, bisa dalam bentuk sindiran maupun perumpamaan (dengan syair yang lebih panjang):
pulaulah pandan jauh ditengah
dibalik pulau silangsa dua
hancurlah badan dikandung tanah
budi nan baik terkenang jua
sayalah tidak menanam nanas
pohon pepaya didalam padi
sayalah tidak memandang emas
budi bahasa yang kami cari
jika mandi dihilir hilir
jika berkata dibawah bawah
tidak kan hilang intan dipasir
budi bahasa itulah tuah
Kemudian untuk selanjutnya merupakan syair penutup, berupa kalimat perpisahan sebagai tanda akan berakhirnya prosesi “adidang’ itu sendiri