Adélaïde Charlier (lahir 9 Desember 2000) adalah seorang aktivis keadilan iklim asal Belgia. Ia merupakan salah satu pendiri gerakan Youth for Climate di Belgia dan dikenal luas karena perannya sebagai pemimpin dalam aksi mogok sekolah untuk iklim.[1]
Kehidupan Awal dan Awal Mula Aktivisme
Adélaïde Charlier lahir di Namur, Belgia. Kesadaran lingkungan tumbuh dalam dirinya saat ia tinggal bersama keluarganya di Vietnam dan bersekolah di United Nations International School of Hanoi (2012–2016). Lingkungan sekolah yang sangat berfokus pada isu-isu global, termasuk perubahan iklim, membentuk pandangannya sejak usia remaja. Setelah kembali ke Belgia, ia melanjutkan pendidikan di Collège Notre-Dame de la Paix. Pada tahun 2020, ia melanjutkan studinya di bidang Ilmu Politik dan Sosial di Vrije Universiteit Brussel dan Universitas Ghent.[2]
Terinspirasi oleh aksi Greta Thunberg, Charlier bersama aktivis lain seperti Anuna De Wever dan Kyra Gantois, menjadi salah satu wajah utama dari gerakan mogok sekolah untuk iklim pertama di Belgia. Gerakan ini berhasil memobilisasi ribuan siswa untuk turun ke jalan dan menuntut tindakan iklim yang lebih serius dari pemerintah.[3]
Perjalanan dan Pengakuan
Pada Oktober 2019, Charlier berlayar melintasi Samudra Atlantik menuju Santiago, Chili, untuk menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP25). Meskipun konferensi itu kemudian dipindahkan ke Madrid, perjalanannya menunjukkan dedikasi dan tekadnya yang besar.[4]
Atas perjuangan dan kepemimpinannya, Charlier telah menerima berbagai penghargaan. Pada Januari 2020, ia dianugerahi "Namuroise of the Year" dalam kategori "Komitmen untuk Planet" oleh pemerintah Wallonia. Pada tahun 2022, ia juga mendapatkan penghargaan "Female Leadership of the Year" di Lobby Awards 2021.[5]
Selain aktivisme, ia juga aktif dalam berbagai proyek. Charlier menjadi salah satu penulis buku Quel monde pour demain, dialogue entre générations (2020) bersama para tokoh lainnya, termasuk Putri Esmeralda dari Belgia. Buku tersebut membahas isu-isu iklim dalam bentuk dialog dan menawarkan solusi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Kisah hidupnya dan perjuangannya juga didokumentasikan dalam beberapa film, seperti La meuf du climat (2021) dan Soeurs de combat (2022).[6]