Aboru terikat hubungan gandong dengan Hualoy yang beragama Islam di Pulau Seram; Booi yang beragama Kristen Protestan di Pulau Saparua; dan Kariu yang beragama Kristen Protestan di Pulau Haruku.[2][3] Aboru tercatat memiliki hubungan pela keras dengan Negeri Latu, yang dilatarbelakangi oleh bantuan Aboru ketika terjadi perang Latu melawan Rumahkay. Aboru datang membantu dalam dusun sagu yang dihibahkan Latu untuk Aboru.[4]
Tradisi
Aboru dikenal dengan tradisi hela rotan, semacam tarik tambang dengan tali yang terbuat dari rotan. Awalnya, hela rotan digelar sebagai saran mengikat persatuan antara empat kelompok bertetangga, masing-masing Latu Marawakan dari Oma, Latu Surinai dari Rohomoni, Latuconsina dari Pelauw, dan sang tuan rumah, Latu Sinai (Aboru).[5]
↑Talahatu, Marchian (16 April 2020). "Tradisi Hela Rotan Masyarakat Aboru". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Ambon: Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 30 Januari 2025.