Tgk. H. Mukhtar Luthfi bin Tgk. H. Abdul Wahab, atau yang lebih dikenal luas dengan sapaan Abon Seulimeum (wafat 21 Juli 2016), adalah seorang ulama kharismatik terkemuka asal Aceh. Beliau merupakan pemimpin generasi kedua Dayah Ruhul Fata, sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional (dayah) berpengaruh yang terletak di Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Di kalangan masyarakat Aceh, beliau dikenal sebagai tokoh fikh yang tegas dan gigih mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).
Silsilah
Tgk. H. Mukhtar Luthfi lahir dalam lingkungan keluarga ulama di Seulimeum. Ayahnya adalah Tgk. H. Abdul Wahab bin Abbas bin Sayed Al-Hadhrami (dikenal sebagai Abu Seulimeum), seorang ulama besar yang mendirikan Dayah Ruhul Fata pada pertengahan abad ke-20. Silsilah garis keturunan ayahnya menyambung hingga ke pendatang asal Hadramaut, Yaman. Beliau juga merupakan saudara kandung dari Tgk. H. Husaini Abdul Wahab (Waled Husaini), yang kelak menjadi ulama dan Wakil Bupati Aceh Besar periode 2017–2022.
Pendidikan
Abon Seulimeum menempuh jalur pendidikan Islam tradisional sejak usia dini. Dasar-dasar ilmu agama, seperti nahwu, sharaf, fikih, dan tauhid, langsung beliau pelajari di bawah bimbingan sang ayah di Dayah Ruhul Fata.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, beliau melanjutkan riwayat belajarnya ke dayah-dayah besar lainnya di Aceh. Salah satu fase pendidikan terpentingnya adalah saat beliau menjadi santri di Dayah Mudi Mesra Samalanga, Bireuen. Di sana, beliau mengaji secara mendalam kepada ulama legendaris Aceh, Tgk. H. Muhammad Aziz (Abon Samalanga atau Abon Aziz al-Mantiqi). Pengalaman belajar di Samalanga inilah yang memperkokoh keilmuan dan membentuk karakter kepemimpinannya sebagai ulama di kemudian hari.
Kiprah dan Kepemimpinan
Setelah ayahnya, Tgk. H. Abdul Wahab, wafat pada tahun 1996, kepemimpinan Dayah Ruhul Fata Seulimeum secara resmi diteruskan oleh Abon Seulimeum. Di bawah asuhannya, dayah tersebut terus berkembang pesat dan menampung ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru Aceh maupun luar daerah.
Selama memimpin dayah, Abon Seulimeum sangat menekankan penguatan syariat Islam dan penanaman ajaran tarekat yang bersesuaian dengan paham Ahlussunnah wal Jama'ah. Beliau dikenal memiliki prinsip yang sangat kokoh, lugas, dan tanpa kompromi dalam membendung penyebaran paham-paham keagamaan baru (seperti Wahabi Salafi) yang dianggap tidak sejalan dengan tradisi Islam mazhab Syafi'i di Aceh. Konsistensi inilah yang membuat beliau sangat disegani dan dihormati oleh berbagai elemen masyarakat, santri, hingga tokoh politik regional.
Wafat dan Peninggalan
Abon Seulimeum meninggal dunia pada hari Kamis, 21 Juli 2016 pukul 07.30 WIB dalam usia yang sudah sepuh di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, karena gangguan kesehatan. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di dalam area Dayah Ruhul Fata, Seulimeum.
Wafatnya Abon Seulimeum meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh, tercermin dari puluhan ribu pelayat yang memadati area dayah saat prosesi pemakaman. Setiap tahun, alumni dayah dan masyarakat Aceh rutin mengadakan upacara Haul Abon Seulimeum di Dayah Ruhul Fata untuk mendoakan serta meneladani rekam jejak perjuangan dakwah beliau.