Pengalaman
Pada masa-masa mudanya aktif di sejumlah ormas dan partai. Pada 1923 aktif di Sarekat Islam di Aceh Barat. Lalu pada 1924 di Muhammadiyah dan di Partai Masyumi sejak 1946. Setelah Pemilu 1955, ia yang dikenal tawadhu dan tidak suka menonjolkan diri itu masuk menjadi anggota Konstituante mewakili Partai Masyumi.
Pada masa sebelum kemerdekaan, zaman pendudukan Jepang, dan zaman setelah proklamasi, Ia banyak melakukan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Kegiatan tersebut antara lain:
mendirikan Muhammadiyah di Kutaraja (1924), bekerja sebagai pegawai rendahan dan kemudian menjadi pegawai senior. Pada zaman Belanda sebagai pustakawan dan editor pada Kantor Urusan Dalam Negeri (1930 – 1941). Di masa pendudukan Jepang, ia menjadi pemimpin asrama dan pegawai perpustakaan pada Shomubu Nito Syoki (1944), di samping menjadi guru pada Latihan Kursus Kiai.[4]
Setelah Proklamasi Kemerdekaan ia menjadi pegawai pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (1945). Kemudian ia menjabat Kepala Perpustakaan Islam Kementerian Agama di Yogyakarta (1946), anggota pemimpin Partai Masyumi di Yogyakarta (1946), dan menjadi Pegawai Tinggi pada Departemen (Kementerian) Agama Republik Indonesia (1947 – 1955). Pada tahun 1950, ia menjadi pimpinan editor majalah mimbar agama, majalah resmi Departemen Agama. Pada tahun 1948 bersama menteri agama waktu itu KH Masjkur, ia memelopori gagasan penulisan Al-Qur’an Pusaka. Al-Qur’an tersebut berukuran 65 x 120 cm dan kini disimpan di Masjid Baitur Rahim, Istana Negara, Jakarta.
Abu Bakar Atjeh juga tercatat sebagai anggota pengurus penulisan sejarah untuk Monumen Nasional; menjadi salah seorang anggota panitia pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta; seorang pencetus berdirinya Masjid Agung al-Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan; turut mendirikan Perpustakaan Kutub Khannah Iskandar Muda di Banda Aceh (1949-1950); dan mendirikan serta menjadi pengurus Perpustakaan Islam di Jakarta yang kemudian dipindahkan di Yogyakarta.[5][6]
Kedekatan dengan KH. Wahid Hasyim dan Kalangan Pesantren
Pada masa kepemimpinan Menteri Agama KH. Wahid Hasyim, Aboebakar Atjeh bekerja di Departemen Agama untuk membantu menteri dalam urusan penataan pelayanan haji. Selanjutnya, dipercaya oleh KH. Wahid Hasyim memimpin jamaah haji ke Mekah pada 1953. Karena keluasan ilmu dan kecakapannya dalam tulis-menulis ia juga dipercaya mengomandani bidang publikasi Departemen Agama, sebelum kemudian menjadi staf ahli Menteri Agama.
Setelah KH. Wahid Hasyim wafat pada 18 April 1953, Aboebakar Atjeh langsung mengambil inisiatif untuk menulis biografi dan pemikiran KH. Wahid Hasyim sebagai wujud penghormatan kepada tokoh NU tersebut. Empat tahun kemudian, buku itu terbit di Jakarta (kini sudah dicetak ulang pada 2011 oleh Panitia 1 Abad KH Wahid Hasyim).[7]
Pengalamannya dalam menulis buku tentang KH. Wahid Hasyim tersebut dimulai pada waktu Menteri Agama KH Masjkur, pengganti Kiai Wahid, menggelar acara peringatan setahun wafatnya KH. Wahid Hasyim dengan menyerahkan lukisan tentang KH. Wahid Hasyim kepada Nyonya Solehah, sang istri KH. Wahid Hasyim yang juga ibunda dari Abdurrahman Wahid. Kemudian dibentuklah panitia peringatan yang salah satunya berbentuk penerbitan biografi KH. Wahid Hasyim. Dan Aboebakar Atjeh selaku Kepala Bagian Penerbitan Kementerian Agama ditunjuk sebagai penulis.[8]
Aboebakar Atjeh dikenal tekun menggarap penulisan biografi tersebut. Ia bekerja siang dan malam menghubungi para keluarga KH. Wahid Hasyim hingga mengumpulkan foto-foto serta tulisan-tulisan yang pernah dimuat media. Salah seorang yang dihubungi untuk memperkaya bahan-bahan tersebut adalah KH. Abdul Karim Hasyim (dikenal Akarhanaf), adik KH. Wahid Hasyim.
Setelah setahun mengumpulkan semuanya, ia mulai menulis, hingga menjadi buku seperti sekarang. Buku ini menunjukkan keluasan dan kedalaman pengetahuan Aboebakar tentang pesantren dan dunia ulama. Kedekatan dan keakrabannya dengan kalangan reformis-modernis selama di Yogyakarta, tidak menghalanginya juga untuk membangun suasana harmonis dengan komunitas pesantren. Dalam sejumlah tulisannya, Aboebakar menunjukkan kekagumannya dan bahkan menimba banyak dari tradisi keilmuan pesantren.[9]
Dalam satu tulisannya, “Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia”, untuk satu bab buku terjemahan Stoddard, Dunia Baru Islam (1966), ia menunjukkan kontribusi masing-masing, yang reformis-modernis-tradisi maupun Kaum Tua-Kaum Muda, bagi kemerdekaan Indonesia. Semua tulisan diarahkan pada pendekatan rekonsiliasi, titik temu dan pencarian sintesis-sintesis baru bagi kemajuan dan pengumpulan kekuatan bangsa ini. Isi tulisan macam ini tidak kita temukan pada sejumlah sarjana Indonesia didikan Amerika, Eropa maupun Australia, yang selalu mencari titik lemah pada komunitas pesantren, pengumpulan titik kelemahan bangsa ini, serta penonjolan titik-titik tengkar di antara berbagai komponen bangsa ini.[10][11]