Biografi
Ia lahir saat Nabi tengah berdakwah di Makkah dan ia memeluk Islam pada tahun 7 H (ca 628 M) setahun sebelum ayahnya, Amru bin al-Ash, di usia 17 tahun. Nama aslinya Al-Ash kemudian diganti Abdullah oleh Nabi Muhammad saat ia masuk Islam.[4] Ibu Abdullah bernama Raithah binti Munabbih bin Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Sa'ad bin Sahm.[5] Nabi biasa menunjukkan preferensi kepada Abdullah bin Amr karena ilmunya. Dia adalah salah satu sahabat pertama yang menulis hadis, sejumlah 700 hadits disandarkan padanya,[6] setelah mendapat izin dari Muhammad untuk melakukannya.[4]
Terjadi dialog antara Muhammad dan Abdullah terkait kemampuannya membaca kitab al-Quran :
Dari Abu Burdah dari Abdullah ibn Amr bahwa ia bertanya kepada Muhammad,
“Wahai Rasulullah, berapa lama (sebaiknya) aku membaca Al-Quran?”
Rasul menjawab, “Khatamkan dalam waktu satu bulan.”
“Aku mampu lebih dari itu.”
Khatamkan dalam waktu 20 hari.”
Aku mampu lebih baik dari itu.
Khatamkan dalam waktu 15 hari.”
Aku mampu lebih baik dari itu.”
Khatamkan dalam waktu 10 hari.”
Aku mampu lebih baik dari itu.”
Khatamkan dalam waktu lima hari.
Sebenarnya aku mampu lebih baik dari itu,” tetapi Rasulullah saw. tidak memberi keringanan lagi kepadaku."[7]
Abdullah mengikuti beberapa pertempuran bersama Muhammad.[4] Ia dinikahkan bapaknya dengan wanita Quraisy tetapi belum menyentuhnya beberapa malam karena fokus ibadah malam, hingga ditegur Nabi Muhammad,"Barangsiapa membenci sunnahku (menikah), maka ia bukan golonganku."[6] Pada awal masa Khalifah Utsman, Ibnu Amru mengikuti kampanye penaklukkan wilayah Persia hingga ke wilayah Tabaristan dipimpin Said bin al-Ash tahun 651 M.[8]
Saat konflik Ali dengan Muawiyah, ia berpartisipasi dalam Pertempuran Shiffin karena ia diwajibkan untuk mengikuti ayahnya yang berada di pihak Muawiyah.[4] Abdullah memimpin sayap kanan pasukan,[6] meskipun dia tidak ambil bagian dalam pertempuran yang sebenarnya.[4] Ia diriwayatkan telah menyesali keikutsertaannya dalam pertempuran.[4] Hal itu dijelaskannya saat selesai pertempuran di mana datang beberapa orang yang mengaku membunuh Ammar bin Yasir, sahabat Nabi yang mendukung Ali, kemudian Ibnu Amru mengingatkan perkataan Nabi Muhammad bahwa pembunuh Ammar adalah kelompok yang sesat, lantas Muawiyah bertanya mengapa Ibnu Amru berada disisinya, ia menjawab karena diperintahkan Nabi untuk mentaati ayahnya, Amru bin Ash selagi masih hidup.[6]
"Aku berharap mati 10 tahun sebelum terjadi Pertempuran Shiffin, aku sama sekali tidak menebaskan pedangku dan melepaskan panah untuk kaum muslimin," Ucap Ibnu Amru.[6]
Abdullah menggantikan ayahnya, Amr sebagai gubernur Mesir selama beberapa pekan pada awal 664 sebelum Muawiyah, yang telah menjadi khalifah pada tahun 661, menunjuk saudaranya sendiri Utbah bin Abi Sufyan untuk jabatan tersebut. Abdullah juga mewarisi sebagian kekayaan dari bapaknya Amru dan pernah membagikan seratus unta bagi penduduk Madinah.[6] Ibnu Amru memiliki kebun di Thoif yang ia buatkan anjang (merapikan tebing lereng) dengan biaya 1 juta dirham[6] (sekitar 4 miliar rupiah). Dialah sahabat yang dikenal dalam cerita saat menguntit sahabat lain tiga malam yang dikatakan ahli surga oleh Nabi Muhammad.
Pada masa Khalifah Muawiyah, Abdullan bin Amru menunaikan haji dengan 300 unta rombongannya terdiri dari kerabat dan budaknya. Ia berhaji dengan menggunakan 2 jubah dan serban, terlihat rambut dan janggutnya telah memutih.[6] Ia turut menyaksikan dan menangis atas diserangnya Masjidil haram hingga terbakar oleh pasukan Hushain bin Numair[6] karena konflik politik antara Yazid bin Muawiyah dan Abdullah bin Zubair.