Latar belakang
Abdul Hakim dilahirkan di Kampung 7 Ulu, Palembang, pada 19 Maret 1915. Saat berusia 16 tahun, ia pindah ke Pagar Alam dari Palembang karena mengikuti kepindahan kedua orang tuanya ke kota tersebut. Di kota ini ia mendirikan gerakan kepanduan dengan nama Pandu Andalas yang memiliki anggauta tidak kurang dari 250 orang. Gerakan kepanduan ini mengusung gerakan kebangsaan sehingga pemerintahan Hindia Belanda pada saat itu sangat mengawasi gerak-geriknya.
Hakim pernah berniat untuk mendirikan cabang dari Nahdlatul Ulama di Pagar Alam di usia yang masih muda, dan bahkan ia terpilih menjadi ketua panitia walaupun banyak rekan-rekannya yang lebih senior daripadanya. Ketika rapat pendirian diadakan, banyak partisipan yang hadir sehingga pesertanya melebihi kapasitas gedungnya dan mengakibatkan polisi Hindia Belanda membubarkan acara tersebut karena dianggap sebagai opengare vergadering, rapat terbuka tanpa izin. Hal ini bertentangan dengan izin yang sudah diajukan yaitu rapat tertutup saja.
Di saat yang sama, seorang pimpinan PNI-Pendidikan cabang Lahat yang sedang ada di Pagar Alam, Doengtjik, bertemu dengan Abdul Hakim dan memberinya nasihat untuk pergi ke Jawa agar bisa banyak belajar mengenai lika-liku perjuangan, bisa berkumpul dengan para tokoh pergerakan serta bisa mendapatkan ilmu lebih lanjut mengenai politik. Doengtjik juga berkhabar dengan rekan seperjuangannya yang ada di Pasirkaliki, Bandung. Di tahun 1933, ia berangkat ke Jawa, dan tiba di Jakarta dan mencoba bertemu seorang yang dikenalnya, Rakim Djojoprajitno, mantan guru "Mardisiswo" di Pagar Alam yang kini bekerja di kantor Factorij di Noordwijk atau lebih dikenal dengan nama jalan Juanda, Jakarta sekarang. Rakim menganjurkannya untuk tidak pergi ke Bandung, tetapi tinggal dan menetap di Jakarta. Rakim sendiri sebenarnya adalah pemimpin serikat buruh di tempatnya bekerja sekaligus simpatisan PNI-Pendidikan. Oleh Rakim, Hakim lalu dititipkan kepada tokoh-tokoh PNI-Pendidikan seperti Djohan Sjahroezah, Kusnaeni dan Maruto, di mana mereka pada umumnya adalah mahasiswa RHS dan anggota PPPI.
Tahun 1935, Hakim dititipkan ke Sujitno Mangunkusumo, mahasiswa RHS dan anggota PPPI yang tinggal di Bogor, yang membuatnya bersentuhan lagi dengan dunia pers. Selain itu ia juga diminta mengurus perpustakaan "Pathaka Loka" milik Sujitno. Dan ketika malam hari, Hakim mendapatkan pelajaran Ilmu Tata Negara dari Alwi Sutan Usman (mahasiswa), serta pelajaran Bahasa Inggris dari Ny. St. Alwi Sutan Usman.
Wartawan
Abdul Hakim memulai kariernya di dunia jurnalistik, ketika ia diterima sebagai korektor pada surat kabar "Pertja Selatan" di Palembang pada usia 16 tahun. Koran itu merupakan yang 'terpanas" di daerah setempat, karena pada masa itu, usaha-usaha untuk merdeka masih diberangus oleh penjajah.
Ia kembali bersentuhan dengan dunia pers, ketika tinggal di Bogor, di rumah Sujitno. Sujitno, saat itu, menerbitkan majalah pendidikan ekonomi untuk rakyat, yang dinamakan Pasar Sabtu, karena terbit di setiap hari Sabtu, di mana di majalah tersebut, Hakim menjadi redaktur. Tahun 1937, di Jakarta terbit surat kabar "Warta Harian" dipimpin oleh Soediono Djojopranoto yang membutuhkan wartawan muda. Sehingga Hakim pindah ke Jakarta untuk menjadi wartawan harian itu.
Abdul Hakim adalah redaktur pertama Antara ketika kantor berita Indonesia ini didirikan pada 13 Desember 1937. Ia ditetapkan sebagai redaktur pertama berdasarkan pernyataan Pimpinan Pers-en Documentatie Bureau "ANTARA" tertanggal Batavia-C, 15 Juli 1941. Sebagai redaktur ia dibantu oleh Sanoesi Pane, Mr. Soemanang, Mr. Alwi, Shahroezah, Sg. Djojopespito. Hakim diangkat sebagai redaktur karena pada masa itu, ia sudah berprofesi sebagai reporter dari koran Keng Po.[2][10]