Daud, bersama-sama imam Zadok dari bani Eleazar dan imam Ahimelekh dari bani Itamar, membagi-bagi imam-imam rombongan anak-anak Harun menurut jabatan mereka dalam penyelenggaraan ibadah. Ternyata bahwa di antara keturunan Eleazar ada lebih banyak kepala kaum daripada di antara keturunan Itamar, sebab itu orang membagi-bagi mereka sebagai berikut: untuk bani Eleazar 16 orang kepala puak, tetapi untuk bani Itamar 8 orang kepala puak. Dan orang membagi-bagi mereka dengan membuang undi tanpa mengadakan perbedaan, sebab ada "pemimpin-pemimpin kudus" dan "pemimpin-pemimpin Allah", baik di antara keturunan Eleazar maupun di antara keturunan Itamar. Dan Semaya bin Netaneel, panitera itu, seorang Lewi, menulis nama mereka di depan raja, di depan pembesar-pembesar, imam Zadok, Ahimelekh bin Abyatar dan di depan kepala-kepala puak para imam dan orang Lewi; setiap kali satu puak diambil dari Eleazar, dan demikian pula satu puak dari Itamar.[3]
Ayat 7-19
Inilah urutan tugas yang diperoleh dari undian untuk ke-24 rombongan imam itu,[4] yang memperoleh jabatan mereka dalam menyelenggarakan ibadah setelah mereka masuk rumah TUHAN, sesuai dengan peraturan yang diberikan kepada mereka dengan perantaraan Harun, bapa leluhur mereka, seperti yang diperintahkan kepadanya oleh TUHAN, Allah Israel.[5]
Suatu inskripsi bahasa Ibrani (terlestarikan 3 fragmen) yang ditemukan di Kaisarea bertarikh akhir abad ke-3 atau awal abad ke-4 M menyebutkan Nazaret sebagai rumah keluarga imam (kohen)Hapizes (הפצץ; Hapizzez; urutan nomor 18) setelah Pemberontakan Bar Kokhba (132–135 M),[7] di antara daftar 24 rombongan imam yang tinggal di kota atau desa di Galilea.[8]
Referensi
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
↑Keluarga ini rupanya telah pindah ke Nazaret setelah Pemberontakan Yahudi pertama (70 M), meskipun ada yang berspekulasi bahwa relokasi ini mungkin "jauh pada abad ke-2 (atau bahkan abad ke-3) [M]." History and Society in Galilee, 1996, p. 110. Pada tahun 131 M, Kaisar Romawi Hadrian melarang orang Yahudi untuk tinggal di Yerusalem, memaksa penduduk Yahudi untuk pindah ke tempat lain.
↑Avi-Yonah, M. (1962). "A List of Priestly Courses from Caesarea". Israel Exploration Journal. 12: 138.