Turnamen ini dirusak oleh kontroversi yang mencolok, politik dalam negeri, dan dugaan campur tangan dan pengaturan pertandingan oleh pemerintah junta militer otoriter Argentina, yang menggunakan turnamen ini sebagai kesempatan untuk propaganda nasionalis. Piala Dunia ini dianggap sebagai cara untuk mendapatkan prestise di dunia internasional oleh rezim militer Argentina. Selama beberapa bulan menjelang Piala Dunia, junta militer berniat untuk membubarkan mereka yang menentang dan meredakan kritik publik terhadap kebijakan mereka.
Di Indonesia, untuk pertama kalinya, pertandingan final dan perebutan juara ketiga disiarkan secara langsung oleh TVRI. Beberapa pertandingan lainnya disiarkan secara tunda di sore hari sehingga makin menyemarakkan euforia Piala Dunia di Indonesia.
Inggris gagal lolos kualifikasi untuk yang kedua kalinya pada kualifikasi Piala Dunia, dikalahkan Italia. Yugoslavia dan Uni Soviet juga gagal lolos turnamen kualifikasi. Tim yang menjadi debut adalah Iran dan Tunisia, serta Prancis kembali lagi untuk pertama kalinya sejak 1966.
Maskot ofisial Piala Dunia kali ini adalah Gauchito, seorang anak lelaki yang memakai kostum Argentina. Ia memakai topi (dengan kata ARGENTINA '78), bandana leher dan cambuk yang merupakan ciri-ciri seorang gaucho (koboy Amerika Latin).