EDF dibentuk pada tanggal 8 April 1946 oleh parlemen tahun 1945, dengan menggabungkan sejumlah perusahaan. EDF pun memimpin pertumbuhan energi Prancis pasca perang, dengan fokus pada energi nuklir, melalui rekonstruksi dan industrialisasi dalam Trente Glorieuses. Pada tahun 2004, pasca integrasi ke European Common Market, EDF diprivatisasi, walaupun pemerintah Prancis tetap memegang 84% saham EDF. Pada tahun 2017, EDF mengambil alih mayoritas saham dari Areva, dalam sebuah restrukturisasi yang disponsori oleh pemerintah Prancis.[7][8][8]<[9] Pada tahun yang sama, sebagai bagian dari upaya untuk keluar dari bisnis nuklir, EDF mengumumkan potensi penutupan 17 reaktor nuklirnya di Prancis paling lambat tahun 2025.[10] Pada tahun 2022, pengumuman tersebut dibatalkan, dengan Presiden Emmanuel Macron mengumumkan rencana untuk "kebangkitan nuklir", dimulai dengan rencana pembangunan 6 reaktor EPR model 2 dengan opsi untuk membangun 8 reaktor tambahan yang serupa.[11] Sementara itu, pembangunan reaktor EPR model 1 juga masih berlanjut di Prancis dan Britania Raya.
EDF fokus pada ketenagalistrikan, mulai dari rekayasa hingga distribusi. Aktivitas perusahaan ini meliputi pembangkitan dan distribusi tenaga listrik; perancangan, pembangunan, dan pembongkaran pembangkit listrik; perdagangan energi; dan transmisi tenaga listrik. Perusahaan ini memiliki sejumlah PLTN, PLTA, PLTB, PLTS, PLTBm, dan PLTG, PLTD.[13]
Pada bulan November 2022, EDF setuju untuk mengakuisisi bisnis nuklir dari GE Steam Power, yang meliputi bisnis produksi peralatan non-nuklir untuk PLTN baru dan bisnis perawatan PLTN di luar Amerika.[14] Akuisisi tersebut dapat diselesaikan pada tanggal 31 Mei 2024, dan bisnis tersebut kini dikenal sebagai Arabelle Solutions.[15]
Jaringan distribusi listrik
Sistem tenaga listrik di Prancis terdiri dari:
sistem transmisi listrik tegangan tinggi dan ekstra tinggi (100.000km kabel). Sistem ini dikelola oleh anak usaha dari EDF, yakni RTE;
sistem distribusi listrik tegangan menengah dan rendah (1.300.000km kabel).[16] Sistem ini dikelola oleh Enedis (dulu ERDF), sebelumnya dikenal sebagai EDF-Gaz de France Distribution. Enedis dipisah dari EDF-Gaz de France Distribution pada tahun 2008 sebagai bagian dari proses pemisahan bisnis dari EDF dan GDF Suez.[17]
Sejarah
Status
EDF didirikan pada tanggal 8 April 1946, sebagai hasil dari nasionalisasi terhadap sekitar 1.700 perusahaan pembangkitan, transmisi, dan distribusi listrik oleh Menteri Produksi Industri Marcel Paul. Sebagai sebuah badan usaha milik negara, perusahaan ini pun menjadi perusahaan pembangkitan dan distribusi listrik utama di Prancis, dengan memonopoli pembangkitan listrik di Prancis.[18] Monopoli tersebut berakhir pada tahun 1999, saat EDF diwajibkan oleh sebuah Pedoman untuk melepas 20% dari total bisnisnya ke kompetitor.[19]
Pada tanggal 22 November 2016, otoritas kompetisi Prancis menggeledah kantor EDF untuk mencari bukti bahwa EDF menyalahgunakan posisi dominannya untuk memanipulasi harga listrik dan menekan kompetitor.[22]
Keuangan
Pada tahun 2001, perusahaan ini mengakuisisi sejumlah perusahaan ketenagalistrikan di Britania Raya, sehingga perusahaan ini menjadi pemasok listrik terbesar di Britania Raya.[23]
Pada bulan Januari 2013, perusahaan ini menjual 1,6% saham Exelon dengan harga $470 juta.[24]
Pada bulan Maret 2016, Direktur Keuangan EDF, Thomas Piquemal, mengundurkan diri. Ia sebelumnya berpendapat bahwa pembangunan PLTN Hinkley Point C seharusnya ditunda selama tiga tahun. Dengan nilai pasar dari EDF turun sebesar 50% jika dibandingkan tahun sebelumnya, biaya pembangunan PLTN Hinkley Point C pun melampaui kapitalisasi pasar dari EDF.[25][26]
Pada bulan Maret 2017, EDF mengadakan rights issue senilai €4 miliar untuk meningkatkan modalnya, dengan diskon sebesar 34,5%. Pemerintah Prancis pun berkomitmen untuk membeli €3 miliar di antaranya. Harga saham EDF lalu turun drastis, karena besarnya diskon dalam rights issue tersebut.[27]