Ancaman El Nino Meluas: 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis Perlu Direhabilitasi
Indonesia menghadapi ancaman serius dari fenomena iklim El Nino yang diprediksi akan melanda pada tahun ini. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat bahwa terdapat sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia yang membutuhkan upaya rehabilitasi guna menanggulangi dampak krisis degradasi lahan dan kekeringan. Lahan kritis ini tersebar di 6,6 juta hektare di dalam zona hutan dan 5,7 juta hektare di luar zona hutan. Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mempererat kolaborasi dalam memulihkan daya dukung alam.
Fenomena El Nino dan Dampaknya
Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mengungkapkan bahwa pemulihan belasan juta hektare tanah kritis tersebut mendesak untuk merawat kelestarian lingkungan. Berdasarkan data Kemenhut, sejak 2024 ada sekitar 12,3 juta hektare area kritis yang meliputi 6,6 juta hektare di dalam zona hutan dan 5,7 juta hektare di luar zona hutan. Besar angka luasan tersebut menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, beserta seluruh pemangku kepentingan untuk mempererat kolaborasi dalam memulihkan daya dukung alam.
Rohmat Marzuki juga mengungkapkan bahwa Kemenhut secara khusus meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan penuh terhadap fenomena iklim El Nino 2026 yang diprediksi akan berlangsung dengan durasi waktu yang lebih cepat dan lebih lama di tanah air. Kekhawatiran tersebut didasarkan pada data kumulatif peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Mei 2026 yang tercatat telah menghanguskan area seluas 81.000 hektare di berbagai wilayah.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Berikut adalah tiga fakta yang membuat kejadian ini berbeda:
Pertama, berdasarkan analisis iklim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat peluang intensitas El Nino kategori kuat mencapai 62 persen dan kategori moderat sebesar 98 persen mulai pertengahan tahun ini. Kedua, hantaman anomali iklim global tersebut diproyeksikan membuat akumulasi curah hujan di 482 zona musim atau mencakup 56,18 persen luas daratan Indonesia berada pada kategori bawah normal atau jauh lebih kering dari kondisi biasanya.
K ketiga, durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi berlangsung lebih panjang dari normalnya pada 437 zona musim (48,77 persen daratan), dengan puncak kekeringan yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus mendatang melanda 369 zona musim. Memasuki bulan Juli, pergerakan kemarau akan kembali merambah 66 zona musim lainnya yang meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Rohmat Marzuki menekankan bahwa selain mengantisipasi dampak El Nino tahun ini, skema mitigasi jangka panjang juga disiapkan guna menghadapi siklus kemarau panjang empat tahunan yang diproyeksikan bakal melanda Indonesia pada tahun 2027 mendatang. Untuk itu, Kemenhut menginstruksikan pengelola sektor kehutanan untuk memprioritaskan penanaman pohon, rehabilitasi hulu sungai, sekitar mata air, dan waduk, serta menerapkan metode pembukaan atau pengelolaan lahan tanpa membakar.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Dalam upaya menghadapi ancaman El Nino dan dampaknya, pemerintah dan pemangku kepentingan harus bekerja sama untuk memulihkan lahan kritis dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Upaya rehabilitasi lahan kritis dan penerapan praktik pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Dengan kerja sama dan komitmen yang kuat, Indonesia dapat mengurangi dampak El Nino dan meningkatkan ketahanan lingkungan untuk masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/news/read/8130438/alarm-el-nino-kemenhut-minta-rehabilitasi-123-juta-hektare-lahan-kritis, without altering the facts of the original article.